Bundibugyo, Varian Ebola yang Lebih Jarang Tapi Tetap Mematikan, Begini Jalur Penularannya

Di tengah sorotan terhadap wabah di Republik Demokratik Kongo dan Uganda, perhatian dunia kembali tertuju pada virus Ebola Bundibugyo yang jarang dibicarakan tetapi tetap berbahaya. Situasi ini menjadi penting karena penyebaran lintas batas dapat memperluas dampak wabah dalam waktu singkat.

Organisasi Kesehatan Dunia menetapkan kondisi tersebut sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Langkah itu menunjukkan bahwa ancaman Ebola Bundibugyo tidak bisa dipandang ringan, meski virus ini tidak seterkenal Ebola Zaire di mata publik.

Virus yang Jarang Muncul, tetapi Masih Mematikan

Bundibugyo virus atau BDBV termasuk dalam genus Orthoebolavirus dan famili Filoviridae. Kelompok ini masih satu rumpun dengan virus Ebola Zaire dan Marburg, sehingga karakter penanganannya tetap menuntut kewaspadaan tinggi.

Di antara penyebab Ebola pada manusia, tiga spesies yang paling sering memicu wabah besar adalah Zaire, Sudan, dan Bundibugyo. Perbedaan genetik antarspecies membuat penanganan tidak bisa disamakan begitu saja, baik dalam deteksi maupun dalam pengendalian infeksi.

Karena itulah, meski kasusnya lebih jarang muncul, Ebola Bundibugyo tetap menjadi perhatian khusus. Risiko fatal dan potensi penularannya membuat wabah ini memerlukan respons cepat sejak awal.

Jejak Awal dari Uganda hingga Kongo

Virus ini pertama kali ditemukan pada November 2007 di Distrik Bundibugyo, Uganda bagian barat. Penemuan itu bermula dari wabah penyakit misterius yang gejalanya menyerupai demam berdarah.

Wabah pertama tersebut mencatat 149 kasus dan 37 kematian. Lima tahun kemudian, wabah kedua muncul di Provinsi Orientale, Republik Demokratik Kongo, dengan 52 hingga 57 kasus serta 25 hingga 29 kematian.

Setelah dua kejadian awal itu, catatan resmi tentang virus ini tergolong minim. Jumlah kasus yang terbatas membuat data ilmiah mengenai perilakunya masih jauh lebih sedikit dibandingkan Ebola Zaire.

Wabah Terbaru Memicu Kekhawatiran Baru

Menurut laporan yang dikutip CBS News, wabah terbaru mulai terdeteksi sekitar April hingga Mei di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo. Penyebarannya kemudian dilaporkan meluas hingga Kampala, Uganda.

Hingga Sabtu, tercatat sekitar 246 kasus suspek dengan 80 kematian. WHO juga menyebut masih ada ketidakpastian besar terkait jumlah pasti orang yang terinfeksi dan luas wilayah yang terdampak.

Kondisi lintas batas antara Republik Demokratik Kongo dan Uganda ikut meningkatkan risiko penyebaran regional. Otoritas kesehatan internasional kemudian memperkuat koordinasi untuk membatasi perluasan wabah.

Gejala Awal yang Mudah Disalahartikan

Infeksi Bundibugyo virus sulit dikenali sejak awal karena gejalanya mirip penyakit umum. Masa inkubasinya berkisar 2 hingga 21 hari, dengan rata-rata sekitar 6 hari.

Pada fase awal, penderita biasanya mengalami demam tinggi di atas 38 derajat Celsius, sakit kepala berat, nyeri otot dan sendi, kelelahan ekstrem, serta sakit tenggorokan. Keluhan ini kerap menyerupai flu atau infeksi virus lain.

Saat penyakit berkembang, gejala dapat berlanjut menjadi mual, muntah, diare, nyeri perut, gangguan pencernaan, dan ruam kulit. Virus juga dapat menyerang organ vital dan memicu gangguan fungsi ginjal serta hati.

Jalur Penularan dan Risiko Antarmanusia

Penyebaran awal Bundibugyo virus terjadi melalui mekanisme zoonosis, yaitu perpindahan virus dari hewan ke manusia. Kontak langsung dengan darah, sekresi, atau organ hewan terinfeksi menjadi jalur penularan utama.

Hewan yang diduga berperan sebagai reservoir alami antara lain kelelawar buah. Primata seperti simpanse, gorila, dan monyet juga disebut dapat terkait dengan penularan.

Setelah masuk ke tubuh manusia, virus dapat menyebar antarmanusia melalui kontak langsung dengan kulit yang terluka atau selaput lendir yang bersentuhan dengan darah dan cairan tubuh penderita. Cairan berisiko tinggi mencakup keringat, urine, air mani, muntahan, dan cairan dari pasien yang meninggal.

Penularan juga dapat terjadi lewat benda yang terkontaminasi, seperti pakaian, tempat tidur, peralatan medis, atau barang lain yang terkena cairan tubuh pasien. Karena itu, pengendalian infeksi menjadi bagian penting dalam respons wabah.

Penanganan Masih Bertumpu pada Perawatan Intensif

Bundibugyo virus kerap disebut memiliki tingkat kematian sedikit lebih rendah dibandingkan Ebola Zaire, tetapi tetap sangat berbahaya. Dari sejumlah wabah sebelumnya, tingkat fatalitasnya berada di kisaran 30 persen hingga 50 persen.

Sebagai pembanding, Ebola Zaire pada beberapa wabah tertentu dapat mencapai tingkat kematian hingga 90 persen. Perbedaan itu tidak mengubah fakta bahwa Bundibugyo tetap dapat menyebabkan kerusakan organ berat dan kematian.

Hingga kini belum ada vaksin khusus yang disetujui untuk melawan Bundibugyo virus. Vaksin Ebola yang banyak digunakan, Ervebo, dirancang untuk spesies Zaire dan tidak ditujukan untuk infeksi Bundibugyo.

Penanganan pasien masih bertumpu pada perawatan suportif intensif. Langkah ini mencakup rehidrasi, pengelolaan gejala, pemantauan fungsi organ, koreksi elektrolit, dukungan nutrisi, dan penanganan perdarahan.

Minimnya data ilmiah, belum adanya vaksin khusus, dan risiko penularan lintas batas membuat Bundibugyo virus tetap dipantau ketat oleh komunitas kesehatan internasional. Kondisi itu menjelaskan mengapa wabah yang jarang muncul ini bisa memicu perhatian besar di tingkat global.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button