Bulan Bukan Sumber Cahaya, NASA Jelaskan Mengapa Ia Tetap Tampak Bercahaya

Yang membuat Bulan begitu mudah dikenali di langit malam ternyata bukan cahaya yang dihasilkannya sendiri. NASA menjelaskan bahwa benda langit ini tampak terang karena permukaannya memantulkan cahaya Matahari ke arah Bumi.

Pantulan itu hanya sebagian kecil, sekitar 12 persen dari cahaya Matahari yang mengenai Bulan. Meski begitu, jumlah tersebut sudah cukup untuk membuat Bulan tetap menonjol di langit malam yang gelap.

Bulan sebagai pemantul cahaya

Dalam astronomi modern, Bulan dipahami sebagai objek penerang pasif. Artinya, Bulan tidak memproduksi cahaya sendiri seperti bintang, melainkan menerima cahaya dari Matahari lalu mengembalikannya ke arah pengamat di Bumi.

Sifat ini membuat Bulan tetap terlihat jelas tanpa harus memiliki sumber cahaya internal. Karena itu, kilau Bulan di langit bukan tanda bahwa benda langit ini bersinar dari dalam, melainkan hasil pantulan dari sumber cahaya lain.

Peran permukaan Bulan

Permukaan Bulan ikut menentukan bagaimana cahaya itu tersebar. Batuan dan debu regolit yang menutupi permukaan satelit alami ini membantu memantulkan cahaya Matahari ke berbagai arah.

Proses tersebut menjelaskan mengapa Bulan bisa tetap tampak terang meski hanya menerima dan memantulkan sebagian kecil cahaya. Dari Bumi, hasil pantulan itu cukup kuat untuk menjadi salah satu pemandangan paling mudah dikenali di malam hari.

Mengapa bentuk Bulan berubah

Perubahan wujud Bulan dari sabit, kuartal, hingga purnama bukan terjadi karena cahaya Bulan berubah. Fase-fase itu muncul karena posisi Matahari, Bumi, dan Bulan terus bergeser saat Bulan mengelilingi Bumi.

Dari sudut pandang di permukaan Bumi, bagian Bulan yang terkena cahaya Matahari terlihat berbeda dari waktu ke waktu. Itulah sebabnya bentuk yang tampak berubah, sementara sumber cahaya yang meneranginya tetap sama.

Berbeda dengan Matahari

Perbedaan Bulan dan Matahari juga terlihat dari cara keduanya menghasilkan cahaya. Matahari adalah bintang yang memproduksi energi dan cahaya sendiri melalui fusi nuklir di intinya.

Bulan tidak memiliki kemampuan seperti itu. Benda langit ini hanya berfungsi sebagai satelit alami Bumi yang memantulkan cahaya Matahari kembali ke arah pengamat.

Catatan dalam kajian keagamaan

Perbedaan sifat cahaya keduanya juga sering dibahas dalam kajian sains dan teks keagamaan. Dalam Al-Qur’an, Matahari disebut sebagai “siraj” atau pelita yang memancarkan cahaya, sedangkan Bulan disebut sebagai “nur” yang bermakna cahaya yang menerangi.

Sejumlah peneliti menilai penggunaan istilah tersebut menarik karena sejalan dengan pemahaman astronomi modern. Matahari menjadi sumber cahaya utama, sedangkan Bulan hanya menyalurkan kembali sebagian cahaya yang diterimanya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sebuah benda langit tidak harus menghasilkan cahaya sendiri untuk tampak terang. Dalam kasus Bulan, kemampuan memantulkan sinar Matahari sudah cukup membuatnya menjadi objek langit yang paling mudah dikenali dari Bumi.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version