Bukan Virus Baru, Hantavirus Sudah Dipelajari Sejak Wabah Tentara Korea 1951

Bagi banyak orang, hantavirus kembali terdengar setelah dikaitkan dengan kasus penyakit akibat tikus di kapal pesiar internasional. Namun, virus ini bukan pendatang baru dalam dunia medis, karena penelitiannya sudah berlangsung lama dan namanya telah dikenal sejak puluhan tahun lalu.

Kekhawatiran publik sering muncul setiap kali hantavirus masuk pemberitaan. Padahal, pemahaman yang lebih penting justru ada pada sejarah panjangnya, cara penularannya yang khas, dan fakta bahwa virus ini sudah lama dipantau di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.

Jejak awal dari wabah misterius

Perhatian ilmiah terhadap hantavirus menguat setelah Perang Korea pada 1951 hingga 1953. Saat itu, ribuan tentara Pasukan PBB mengalami demam berdarah misterius yang disertai gangguan ginjal, tetapi penyebab pastinya belum diketahui.

Investigasi kemudian terus berkembang selama beberapa dekade berikutnya. Pada 1978, seorang penderita berhasil diisolasi setelah diketahui tertular dari hewan pengerat kecil bernama Apodemus agrarius di dekat Sungai Hantan, Korea Selatan.

Dari lokasi itulah virus tersebut kemudian diberi nama virus Hantaan. Perkembangan itu menjadi landasan penting sebelum genus Hantavirus resmi diperkenalkan pada 1981 dalam famili Bunyaviridae.

Mengapa hantavirus dianggap penting

Hantavirus kemudian diketahui menjadi penyebab penyakit haemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS. Penyakit ini menyerang ginjal dan pembuluh darah manusia, sehingga gejalanya dapat berkembang serius dalam waktu singkat.

Kasus awal di Korea juga diduga berkaitan dengan lebih dari 3.000 kasus demam berdarah pada tentara setelah perang berakhir. Dari situ, hantavirus mulai dikenal luas sebagai kelompok virus yang patut diwaspadai dalam dunia medis modern.

Perhatian dunia kembali meningkat pada 1993 ketika wabah hantavirus terjadi di wilayah barat daya Amerika Serikat. Wabah itu memicu gangguan serius pada saluran pernapasan dan melahirkan istilah hantavirus pulmonary syndrome atau HPS.

Cara penularan yang perlu dipahami

Hantavirus tidak menyebar seperti virus pernapasan yang umum dikenal publik. Para ahli menegaskan pola penularannya berbeda dari COVID-19, sehingga pemahaman soal mekanismenya menjadi sangat penting.

Penularan umumnya terjadi melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Virus bisa masuk lewat udara yang mengandung partikel urin, feses, atau saliva tikus, dan kontak langsung dengan rodensia atau permukaan yang terkontaminasi juga meningkatkan risiko.

Dalam pedoman nasional, penularan dijelaskan terutama terjadi melalui udara yang terkontaminasi kotoran tikus. Artinya, seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular.

Penyebaran yang berbeda di tiap wilayah

Persebaran hantavirus di dunia terbagi berdasarkan tipenya. Hantaan banyak ditemukan di Asia Timur seperti China dan Korea, serta sebagian wilayah Rusia.

Puumala lebih sering muncul di Skandinavia, Eropa Barat, dan Rusia bagian barat. Dobrava dominan di kawasan Balkan, sedangkan Saarema tersebar di Eropa Tengah dan Skandinavia.

Ada juga tipe Seoul yang termasuk salah satu varian dengan sebaran hampir di seluruh dunia. Sementara itu, tipe Andes lebih banyak ditemukan di Amerika Selatan, khususnya Argentina dan Chili.

Catatan Indonesia yang sudah lama mengenal virus ini

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa hantavirus sudah ada di Indonesia sejak 1980-an. Studi komprehensif di berbagai kota besar menunjukkan angka paparan pada manusia mencapai sekitar 11,6 persen.

Pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksinya bahkan bisa mencapai 0 hingga 34 persen. Data ini menunjukkan virus masih beredar aktif di lingkungan tertentu, terutama wilayah dengan kepadatan rodensia tinggi.

Kementerian Kesehatan juga mencatat 23 kasus hantavirus jenis Seoul virus dalam dua tahun terakhir, dengan tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Pada 2026, tercatat tambahan lima kasus baru di beberapa wilayah Indonesia.

DKI Jakarta dan DIY menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak, disusul Jawa Barat, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, NTT, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara. Situasi ini membuat hantavirus tetap menjadi perhatian kesehatan yang perlu dipantau bersama.

Gejala awal yang sering membingungkan

Hantavirus kerap sulit dikenali pada awal infeksi karena gejalanya mirip penyakit lain yang lebih umum. Keluhan awal biasanya berupa demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan.

Di Indonesia, gejala itu sering menyerupai demam berdarah, tifoid, atau leptospirosis. Akibatnya, sebagian kasus bisa terlewat atau baru diketahui ketika kondisi pasien sudah memburuk.

Pemantauan dan investigasi terus dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran lebih luas. Di tengah perhatian publik yang meningkat, pemahaman tentang sejarah, cara penularan, dan gejala hantavirus menjadi kunci agar risiko tidak salah dibaca.

Source: www.beautynesia.id
Exit mobile version