Dalam daftar pesawat tempur Inggris terbaik pada Perang Dunia II, posisi puncak justru tidak ditempati Spitfire. Hawker Tempest dinilai paling efektif karena lebih unggul dalam tugas tempur yang paling menentukan pada fase akhir perang, terutama saat berburu target di udara dan di darat.
Susunan peringkat ini juga memperlihatkan perubahan besar dalam dunia penerbangan tempur Inggris. Dari biplane tua yang masih mengisi celah di awal perang hingga pesawat modern yang lebih cepat, lebih bersenjata, dan lebih spesifik perannya, setiap nama di daftar ini mewakili kebutuhan tempur yang berbeda.
Di bagian paling bawah daftar, Gloster Gladiator menjadi penanda akhir era biplane. Pesawat ini awalnya disiapkan sebagai pengisi sementara sebelum Hurricane dan Spitfire tersedia dalam jumlah memadai, tetapi tetap mencatat 304 kemenangan dalam dinas RAF.
Nama lain yang menarik perhatian adalah Martin-Baker MB5. Pesawat ini datang terlambat untuk benar-benar mengubah jalannya perang, tetapi performanya mengesankan dengan kecepatan puncak 460 mph dan empat meriam 20 mm.
Boscombe Down juga memuji tata letak kokpit MB5, meski waktunya tidak lagi berpihak. Di atas kertas, pesawat ini menunjukkan apa yang bisa dicapai ketika desain tempur Inggris mencapai titik matang.
Boulton Paul Defiant punya riwayat yang jauh lebih unik. Pesawat ini gagal menjalankan tugas awal sebagai penghancur bomber karena hanya mengandalkan senjata yang mengarah ke belakang, tetapi kemudian justru efektif sebagai night fighter selama Blitz 1940/41.
Westland Whirlwind menempati posisi berikutnya sebagai pesawat cepat dengan empat meriam 20 mm di hidung. Namun desainnya hadir terlambat untuk Battle of Britain, mengalami masalah pengembangan, dan hanya dibuat 116 unit.
Mesin kuat, hasil yang tidak selalu mulus
Hawker Typhoon menunjukkan sisi lain dari kemajuan teknologi tempur. Pesawat ini mampu mencapai kecepatan nyata 400 mph, tetapi programnya terganggu oleh mesin Sabre yang berat, rumit, dan tidak andal.
Karena masalah itu, Typhoon gagal memenuhi peran awalnya sebagai interceptor. Meski begitu, pesawat ini tetap menjadi salah satu desain paling dikenal dalam transisi menuju peran tempur yang lebih fleksibel.
Bristol Beaufighter lalu memperlihatkan arah pengembangan yang berbeda. Pesawat ini lahir dari Bristol Beaufort dan membawa daya rusak besar lewat amunisi 808 pon serta persenjataan berat.
Kombinasi itu membuat Beaufighter sangat efektif melawan pesawat besar seperti Ju 88, Ju 188, dan Heinkel He 111. Dalam peran pemburu dan penghancur sasaran besar, pesawat ini memberi kontribusi yang sangat nyata.
De Havilland Mosquito berada lebih tinggi lagi berkat gabungan kecepatan, daya tembak, dan kelincahan. Airframe kayunya yang ringan dan halus membantu performanya, sementara varian night fighter-nya menjadi pemburu bomber malam yang sangat efektif dengan bantuan radar udara.
Tiga besar yang membentuk reputasi RAF
Hawker Hurricane memegang tempat penting dalam sejarah karena menjadi pesawat RAF pertama yang mampu melampaui 300 mph. Di Battle of Britain, pesawat ini juga menjadi fighter paling banyak jumlahnya dan meraih 656 kemenangan.
Peran Hurricane tidak berhenti di satu medan tempur. Pesawat ini digunakan di gurun Afrika dan Front Timur, sementara total produksinya melampaui 14.000 unit ketika selesai dibuat pada 1944.
Supermarine Spitfire tetap menjadi ikon utama perang udara Britania. Pesawat ini terbang pertama kali pada 1936, meraih sekitar 5.950 kemenangan dalam dinas RAF, dan terus berkembang sepanjang perang hingga menjadi lebih besar, lebih cepat, dan lebih mematikan dari versi awalnya.
Meski begitu, Spitfire tidak menempati posisi pertama dalam penilaian ini. Di atas kertas efektivitas tempur, Hawker Tempest dinilai lebih menentukan pada fase akhir perang.
Tempest memperbaiki banyak kelemahan Typhoon lewat sayap tipis baru. Perubahan itu membuatnya menjadi pemburu V-1 paling efektif dengan sekitar 800 rudal jatuh olehnya.
Perannya juga meluas sebagai fighter-bomber di Eropa. Pada fase akhir perang, Tempest menyerang pesawat di darat dan udara, situs rudal V-2, kereta api, serta target lain yang berada dalam jangkauan tembaknya.
Urutan ini menunjukkan bahwa kemenangan udara Britania dibangun oleh kombinasi pesawat yang saling melengkapi. Dari Gladiator yang setia di masa awal hingga Tempest yang tajam di ujung perang, RAF mengandalkan pesawat yang berbeda untuk kebutuhan yang berbeda.