Banyak tanaman yang selama ini akrab di dapur, kebun, dan obat tradisional ternyata ikut menarik perhatian peneliti karena kandungan bioaktifnya. Dari kunyit hingga propolis, sejumlah herbal disebut memiliki potensi membantu menghambat pertumbuhan sel kanker, meski tetap tidak boleh diperlakukan sebagai pengganti terapi medis.
Perhatian terhadap tanaman herbal ini muncul karena Indonesia memiliki kekayaan hayati yang besar dan beragam. Di tengah tantangan kanker yang masih besar, kajian ilmiah terus mencari dukungan tambahan yang aman dan tepat untuk mendampingi penanganan medis.
Herbal tetap harus ditempatkan sebagai pendamping
Sejumlah akademisi mengingatkan bahwa herbal tidak boleh diposisikan setara, apalagi menggantikan, terapi utama kanker. Dosen Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. apt. Rifki Febriansah, menegaskan bahwa bahan alami di sekitar masyarakat punya potensi besar untuk pencegahan hingga pendamping terapi kanker.
Pandangan itu sejalan dengan penekanan bahwa penanganan kanker tetap bertumpu pada pemeriksaan medis, terapi utama, pola makan sehat, dan gaya hidup yang seimbang. Penggunaan herbal juga perlu mengikuti anjuran dokter agar tetap aman dalam proses perawatan.
Senyawa aktif yang paling sering disorot
Dalam berbagai kajian, perhatian banyak tertuju pada senyawa seperti kurkumin, gingerol, sulforafan, dan flavonoid. Zat-zat tersebut kerap dikaitkan dengan kemampuan membantu menghambat aktivitas sel kanker.
Kandungan antioksidan juga menjadi alasan banyak tanaman dipelajari lebih jauh. Senyawa ini dinilai dapat membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan yang berpotensi memicu gangguan kesehatan serius.
Tanaman yang paling sering disebut
Kunyit termasuk herbal yang paling banyak dibahas dalam penelitian kesehatan. Tanaman ini mengandung kurkumin yang dikenal memiliki sifat antiinflamasi dan antikanker, sekaligus dipercaya membantu melindungi sel sehat dari kerusakan radikal bebas.
Temulawak juga menyimpan kurkumin dan antioksidan dalam jumlah yang menarik perhatian peneliti. Rimpang asli Indonesia ini kerap dikaitkan dengan dukungan daya tahan tubuh dan kesehatan hati, serta berpotensi menekan perkembangan sel kanker tertentu.
Jahe tidak kalah menonjol karena mengandung gingerol dan shogaol. Selain diteliti karena potensi menghambat pertumbuhan sel kanker, jahe juga sering digunakan untuk membantu meredakan mual pada pasien kemoterapi.
Sayuran dan tanaman liar yang ikut dikaji
Di kelompok sayuran, brokoli dikenal mengandung sulforafan yang sering dikaitkan dengan kemampuan melawan pertumbuhan sel kanker. Kubis juga masuk perhatian karena kaya vitamin, serat, dan sulforafan yang dipercaya mendukung detoksifikasi tubuh dan membantu menghambat perkembangan sel abnormal.
Ciplukan menjadi contoh tanaman liar yang mudah ditemukan di kebun, tetapi memiliki kandungan fisalin yang disebut dapat membantu menekan pertumbuhan sel kanker. Tanaman ini juga disebut memiliki sifat antiinflamasi.
Tanaman yang sudah lama dikenal masyarakat
Tapak dara sudah lama menarik perhatian dunia medis karena mengandung alkaloid vincristine dan vinblastine. Kedua senyawa itu bahkan digunakan dalam pengobatan kanker modern.
Daun sirsak juga sangat populer di masyarakat karena kerap dikaitkan dengan potensi antikanker. Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Prof. I Ketut Adnyana, menyebut senyawa aktifnya mampu menekan sel kanker, dan dalam paparannya disebut menunjukkan hasil lebih baik dibanding tamoxifen pada pengujian tertentu terhadap sel kanker.
Melinjo ikut masuk daftar tanaman yang berpotensi antikanker. Biji melinjo mengandung gnetin C dan trans-resveratrol, sementara masyarakat sudah lama mengonsumsinya dalam bentuk emping atau sayur lodeh.
Kelompok herbal lain yang juga diteliti
Keladi tikus sering dipakai dalam pengobatan tradisional dan telah diteliti karena mengandung senyawa aktif yang berpotensi membantu melawan sel kanker. Lempuyang wangi, yang masih satu keluarga dengan jahe, juga mendapat perhatian karena disebut memiliki senyawa aktif antikanker.
Temu kunci mengandung berbagai senyawa bioaktif yang diteliti karena berpotensi menghambat pertumbuhan sel abnormal dalam tubuh. Bawang tiwai atau bawang dayak dari Kalimantan juga lama digunakan dalam pengobatan tradisional dan dipercaya memiliki sifat antioksidan serta antikanker.
Bahan alami dari lebah hingga buah anggur
Di luar tanaman rimpang dan sayur, biji anggur juga ikut masuk sorotan karena kaya antioksidan seperti proanthocyanidin. Senyawa ini dipercaya membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan.
Propolis melengkapi daftar bahan alami yang banyak diteliti. Zat yang dihasilkan lebah madu ini mengandung flavonoid dan antioksidan yang dinilai berpotensi membantu menghambat pertumbuhan sel kanker.
Penelitian terhadap herbal terus berkembang seiring besarnya kekayaan tanaman yang dimiliki Indonesia. Namun, seluruh pemanfaatannya tetap perlu ditempatkan sebagai pendamping terapi agar penanganan kanker berjalan aman dan berada di bawah pengawasan medis.
Source: www.suara.com