Bukan Mobil Baru, Komponen dan Logistik Yang Menopang Laba Astra Saat Pasar Lesu

Di tengah pasar otomotif yang belum benar-benar pulih, Astra justru menemukan penopang kinerja dari lini yang tidak selalu menjadi sorotan utama. Kontribusi dari mobilitas, komponen, dan transportasi membuat grup ini masih bisa menjaga laba di kuartal pertama 2026.

Divisi otomotif dan mobilitas Astra membukukan laba bersih Rp2,4 triliun, naik 4 persen dari Rp2,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, jika komponen non-operasional dikeluarkan, laba bersih divisi itu menjadi Rp2,6 triliun dan justru turun 4 persen dibanding kuartal pertama 2025.

Pasar kendaraan belum memberi dorongan berarti

Kenaikan laba itu tidak lahir dari lonjakan penjualan mobil baru. Sepanjang tiga bulan pertama 2026, penjualan mobil nasional hanya tumbuh 2 persen menjadi 209.000 unit, sementara pangsa pasar otomotif Astra turun menjadi 49 persen.

Tekanan terutama datang dari segmen mass market yang melemah. Persaingan yang makin ketat juga ikut menahan laju Astra di pasar roda empat.

Di segmen roda dua, kondisi nasional juga belum kuat. Penjualan sepeda motor nasional turun 4 persen menjadi 1,6 juta unit, meski PT Astra Honda Motor masih memegang pangsa pasar 78 persen.

Komponen dan mobilitas jadi penopang

Di tengah pasar yang berat, kinerja bisnis komponen memberi bantalan penting. PT Astra Otoparts Tbk mencatat laba bersih Rp447 miliar, tumbuh 10 persen, berkat performa yang solid di seluruh segmen bisnisnya.

Hasil itu menunjukkan permintaan aftermarket dan manufaktur komponen masih berjalan. Pada saat yang sama, lini mobilitas juga ikut menjaga kinerja grup tetap stabil.

Serasi Autoraya menjadi salah satu penyumbang penting dari sisi transportasi dan logistik. Jumlah unit kontrak perusahaan itu naik 14 persen menjadi 28.800 unit, sedangkan penjualan mobil bekasnya meningkat 9 persen menjadi 8.200 unit.

Tekanan juga datang dari portofolio lain

Astra masih menghadapi tekanan dari sisi investasi. Perusahaan mencatat kerugian nilai wajar investasi ekuitas sebesar Rp241 miliar terkait GoTo, lebih kecil dari kerugian Rp456 miliar pada tahun sebelumnya, tetapi tetap menekan bottom line.

Di luar otomotif, kinerja grup juga tidak bergerak seragam. Divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi membukukan laba bersih Rp408 miliar, turun 79 persen.

UT menyebut ada non-recurring charges sebesar Rp723 miliar pada bisnis nikel dan pembangkit listrik panas bumi. Tanpa beban itu, laba bersih divisi tersebut tetap turun 42 persen menjadi Rp1,1 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu.

Penurunan itu terutama dipengaruhi tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe. Di sisi lain, permintaan pelanggan terhadap alat berat dan jasa kontraktor tambang juga tertekan seiring alokasi RKAB batubara nasional yang lebih rendah pada 2026.

Meski pasar mobil belum kembali kuat, kombinasi bisnis komponen, mobilitas, dan transportasi membuat Astra tetap punya bantalan kinerja. Situasi ini menunjukkan bahwa laba grup tidak hanya bergantung pada penjualan mobil baru, melainkan juga pada kontribusi dari lini usaha lain yang masih aktif bergerak.

Source: www.oto.com
Exit mobile version