Bukan Menular Lewat Antar-Manusia, Hantavirus Justru Mengintai Dari Tikus Dan Bisa Berujung Fatal

Banyak orang mengenal hantavirus sebagai ancaman yang diam-diam muncul dari tempat yang jarang dibersihkan. Risiko ini sering berawal dari gudang berdebu, ruangan lama tak terurus, atau area yang dihuni tikus, sehingga paparan bisa terjadi tanpa disadari.

Yang membuat virus ini berbahaya adalah cara masuknya ke tubuh. Hantavirus tidak menyebar antarmanusia dalam pola umum, tetapi dapat menular melalui kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi, termasuk saat partikel tercemar terhirup ketika membersihkan area kotor.

Dua penyakit yang bisa muncul

Dampak hantavirus berbeda tergantung wilayah dan organ yang diserang. Di Amerika, virus ini dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS, yang menyerang paru-paru.

HPS biasanya diawali demam, lemas, dan nyeri otot. Kondisinya bisa memburuk cepat hingga penderita mengalami sesak napas berat karena paru-paru terisi cairan.

Di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia, bentuk yang lebih sering dibahas adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS. Penyakit ini lebih banyak menyerang ginjal dan dapat memunculkan sakit kepala hebat, sakit punggung, serta ruam kemerahan di wajah atau mata.

Pada fase lanjut, tekanan darah bisa turun drastis dan berujung pada gagal ginjal akut. Perbedaan organ yang terdampak inilah yang membuat hantavirus tidak bisa dipandang sebagai infeksi biasa.

Kasus jarang, tetapi risikonya besar

Infeksi hantavirus memang tergolong jarang, tetapi tingkat keparahannya tetap tinggi. Di Asia dan Eropa, jumlah kasus tahunan diperkirakan berada di kisaran 10.000 hingga 100.000, dengan tingkat kematian 1 persen sampai 15 persen.

Tiongkok dan Korea Selatan termasuk negara yang paling sering melaporkan kasus, meski jumlahnya disebut menurun berkat penanganan yang lebih baik. Sementara itu, di Amerika kasusnya lebih sedikit, hanya ratusan per tahun, tetapi angka kematiannya bisa mencapai 20 persen sampai 40 persen, bahkan kadang 50 persen.

Perbedaan angka itu menunjukkan bahwa hantavirus tetap dipantau ketat di banyak negara. Meski tidak selalu muncul dalam jumlah besar, ancamannya dinilai serius karena dampaknya dapat berkembang cepat.

Langkah pencegahan yang paling masuk akal

Hingga kini belum ada vaksin khusus untuk mencegah hantavirus. Karena itu, pencegahan bergantung pada penghindaran kontak dengan tikus dan pada kebersihan lingkungan rumah.

Celah atau lubang masuk tikus perlu ditutup agar hewan pengerat tidak mudah masuk. Gudang dan area berantakan juga perlu dibersihkan, dan perangkap dapat dipasang bila diperlukan.

Saat membersihkan area yang mungkin terpapar kotoran tikus, disinfektan perlu digunakan agar kuman mati. Langkah ini penting karena permukaan yang tampak aman bisa saja sudah tercemar.

Kebersihan diri juga tidak boleh diabaikan. Tangan perlu dicuci dengan sabun setelah beres-beres atau sebelum makan, sementara makanan dan peralatan masak harus bersih serta tertutup rapat.

Bagi pekerja yang sering berhubungan dengan hewan pengerat, alat pelindung diri lengkap perlu dipakai sesuai aturan. Perlindungan ini membantu mengurangi risiko paparan di lingkungan yang rawan tikus.

Gejala yang tidak boleh diabaikan

Demam, lemas, atau sesak napas setelah kontak dengan tikus atau kotorannya perlu segera diperiksa. Gejala hantavirus sering menyerupai flu atau pneumonia, tetapi bisa memburuk sangat cepat.

Dokter biasanya akan melakukan tes darah untuk mencari antibodi atau tanda-tanda virus di tubuh. Pemeriksaan juga dapat mencakup sel darah putih, trombosit yang sering turun drastis, dan kadar oksigen dalam darah.

Orang yang tinggal di area banyak tikus atau bekerja sebagai petugas pembasmi hama disarankan menjalani pemeriksaan kesehatan berkala. Kewaspadaan sejak awal penting karena hantavirus dapat menyerang paru-paru dan ginjal dengan cepat bila terlambat ditangani.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version