Baterai berbasis besi mulai mendapat perhatian karena menawarkan dua hal yang jarang hadir bersamaan: biaya material yang rendah dan umur pakai yang sangat panjang. Di tengah pasar penyimpanan energi yang masih sangat bergantung pada lithium, klaim dari tim Chinese Academy of Sciences’ Institute of Metal Research membuat teknologi ini terlihat seperti penantang baru yang patut diawasi.
Yang membuatnya menonjol bukan hanya soal harga bahan baku. Lithium disebut berada di kisaran sekitar $26.000 per ton pada pertengahan Mei 2026, sedangkan bijih besi berada sedikit di atas $110 per ton, sehingga perbedaan biaya materialnya sangat lebar untuk kebutuhan skala besar.
Umur pakai yang jadi sorotan
Dalam makalah yang dimuat di Advanced Energy Materials, peneliti menyebut baterai aliran all-iron tersebut mampu melewati lebih dari 6.000 siklus pengisian ulang tanpa kehilangan kapasitas. Jika dipakai setiap hari, angka itu setara dengan sekitar 16 tahun penggunaan.
Perbandingan ini terlihat mencolok saat disejajarkan dengan baterai lithium-ion. Pada smartphone, baterai lithium-ion biasanya bertahan kurang dari 1.000 siklus, sementara versi yang lebih besar bisa mencapai hingga 5.000 siklus.
Apa yang membuatnya lebih tahan lama
IMR menjelaskan bahwa teknologi baru ini memakai elektrolit yang dirancang untuk mencegah ion hidroksida menyerang pusat besi. Perlindungan pada inti besi itu disebut menjadi kunci untuk mengatasi masalah daya tahan yang selama ini membatasi desain baterai besi sebelumnya.
Pendekatan tersebut penting karena baterai tidak hanya dituntut murah, tetapi juga stabil dalam jangka panjang. Untuk sistem penyimpanan energi besar, kegagalan pada umur pakai bisa berdampak langsung pada biaya operasional dan keandalan pasokan.
Performa saat arus tinggi tetap dijaga
Selain umur pakai, efisiensi juga menjadi tolok ukur penting. Dalam rilis IMR, baterai besi ini disebut mencatat efisiensi coulombic rata-rata 99,4 persen selama lebih dari 6.000 siklus pada arus 80 mA/cm² tanpa penurunan kapasitas.
Saat arus dinaikkan, performanya memang turun, tetapi masih tercatat 78,5 persen pada 150 mA/cm². Efisiensi coulombic sendiri menggambarkan jumlah elektron yang berpindah antara elektroda selama pengisian, dan angka yang tinggi umumnya berkaitan dengan umur baterai yang lebih panjang.
Lebih cocok untuk jaringan listrik daripada perangkat kecil
Meski terdengar menarik, baterai all-iron ini belum ditujukan untuk ponsel atau laptop. Arah pemakaiannya lebih jelas untuk penyimpanan energi jangka panjang di skala jaringan listrik.
Salah satu skenario yang paling masuk akal adalah fasilitas baterai besar seperti Darden Clean Energy Project di California. Sistem seperti ini dibutuhkan untuk membantu pergeseran menuju energi terbarukan yang lebih stabil.
Persaingan di pasar flow battery makin nyata
Baterai aliran sendiri bukan teknologi baru dalam industri energi. Jepang dan China sudah mengoperasikan fasilitas flow battery berskala besar pada April dan Juli 2022, sementara di Amerika Serikat, Ess Tech Inc bekerja sama dengan Salt River Project di Arizona pada 2025 untuk memasok flow batteries bagi Project New Horizon.
Proyek itu memiliki kapasitas 5 megawatt dan 50 MWh, serta mampu memberi daya pada lebih dari 1.000 rumah selama 10 jam. Di tengah kompetisi yang sudah berjalan ini, klaim dari tim China menempatkan baterai all-iron sebagai opsi yang semakin serius dalam pencarian alternatif di luar lithium.





