Kegelisahan Uni Eropa bukan hanya soal siapa yang dipilih Vladimir Putin sebagai perantara, tetapi juga soal arah politik yang ingin dibuka Moskow. Di Brussels, gagasan menjadikan Gerhard Schroeder sebagai jembatan pembicaraan keamanan Eropa langsung dipandang tidak netral dan tidak layak.
Penolakan itu juga memperlihatkan bahwa para pemimpin Uni Eropa belum melihat Rusia siap masuk ke meja perundingan dengan itikad baik. Bagi Brussels, masalahnya bukan sekadar nama Schroeder, melainkan potensi memberi Rusia pengaruh sejak awal dalam proses yang seharusnya ditentukan oleh Eropa sendiri.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menilai pilihan Putin atas Schroeder sudah menunjukkan masalah mendasar. Menurut dia, langkah tersebut membuat Schroeder seolah “duduk di kedua sisi meja”, sehingga sulit dianggap sebagai perantara yang benar-benar netral.
Kallas juga menegaskan bahwa Rusia tidak seharusnya diberi hak menentukan siapa yang mewakili Eropa dalam pembicaraan keamanan. Ia menilai belum ada tanda yang cukup kuat bahwa Moskow siap bernegosiasi dengan jujur untuk perdamaian dan keamanan di Eropa.
Sikap serupa datang dari para menteri luar negeri Uni Eropa yang berkumpul di Brussels. Mereka menepis kemungkinan bahwa Schroeder dapat dipakai sebagai penghubung dalam pembicaraan semacam itu dan tetap skeptis terhadap kesediaan Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Riwayat kedekatan Schroeder dengan Moskow menjadi salah satu alasan utama penolakan tersebut. Para pejabat Uni Eropa memandang hubungan lama itu membuatnya tidak cocok sebagai perantara yang dapat dipercaya, apalagi ia juga pernah bekerja untuk perusahaan milik negara Rusia.
Menteri Eropa Jerman, Gunther Krichbaum, bahkan menyebut Schroeder tidak memiliki kredensial sebagai “perantara yang jujur”. Ia menambahkan bahwa Schroeder sangat dipengaruhi Putin, dan pengaruh itu disebut telah berlangsung lama.
Di sisi lain, pembahasan soal peran Eropa dalam jalur negosiasi masih terus berlangsung. Kallas mengatakan Uni Eropa terlebih dahulu harus sepakat mengenai tujuan setiap pembicaraan sebelum melangkah lebih jauh ke arah dialog dengan Rusia.
Pandangan berbeda muncul dari Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha. Ia menolak peran Schroeder, tetapi masih membuka ruang bagi keterlibatan Eropa dalam pembicaraan yang bersifat komplementer terhadap negosiasi yang dipimpin Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.
Sybiha tidak merinci bentuk keterlibatan itu, namun ia menyebut kemungkinan fokusnya pada penyelesaian masalah konkret. Seorang sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan Sybiha mengusulkan mediasi untuk kesepakatan antara Rusia dan Ukraina agar serangan ke bandara masing-masing dihentikan.
Usulan itu diposisikan sebagai langkah yang lebih terbatas dan terukur, bukan terobosan besar untuk mengakhiri perang. Pendekatan seperti ini menunjukkan adanya ruang untuk pembahasan teknis, meski belum ada kesepakatan yang lebih luas mengenai jalur menuju perdamaian.
Latar belakang semua ini adalah kebijakan Uni Eropa yang sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 memilih mengisolasi Moskow. Blok tersebut menjatuhkan sanksi dan hanya mempertahankan sedikit kontak politik serta diplomatik tingkat tinggi dengan Rusia.
Namun, di tengah kebuntuan negosiasi yang dipimpin Amerika Serikat, sebagian pejabat Eropa mulai mendorong pembicaraan langsung dengan Moskow. Dorongan itu menguat ketika proses yang dipimpin Washington berjalan lambat, terutama karena fokus Amerika Serikat terbagi pada perang di Iran.
Presiden Dewan Eropa Antonio Costa pekan lalu mengatakan dirinya berbicara dengan para pemimpin Uni Eropa lain untuk mengatur diri dan menentukan apa yang perlu dibahas dengan Rusia saat “waktu yang tepat” tiba. Meski begitu, beberapa pejabat lain tetap menilai tekanan terhadap Rusia harus diperkuat terlebih dahulu sebelum berbicara soal perundingan atau memilih perwakilan.
Menteri Luar Negeri Lituania Kestutis Budrys mengatakan persoalannya bukan pada siapa yang dipilih. Menurut dia, hal yang lebih mendasar adalah menyiapkan alat untuk menekan Rusia.
Berbeda dengan itu, Menteri Luar Negeri Austria Beate Meinl-Reisinger menilai Uni Eropa sudah waktunya lebih aktif terlibat dalam pembicaraan dengan Rusia dan menunjuk tim negosiasi. Ia menegaskan keputusan semacam itu harus dibuat oleh Uni Eropa sendiri, bukan oleh Rusia.





