BRIN Kembangkan SWx AI, Analisis Cuaca Antariksa Dibuat Lebih Cepat Dan Konsisten

Di tengah kebutuhan informasi yang semakin cepat, BRIN mendorong cara kerja baru untuk membaca cuaca antariksa secara lebih ringkas. Melalui sistem kecerdasan buatan bernama SWx AI, proses analisis yang selama ini banyak bergantung pada pengecekan manual diharapkan bisa bergerak lebih otomatis dan lebih konsisten.

Cuaca antariksa menjadi perhatian karena berkaitan dengan aktivitas Matahari dan kondisi ruang angkasa yang dapat berdampak pada satelit, komunikasi, GPS, hingga jaringan listrik di Bumi. Karena itu, BRIN menilai prediksi yang cepat dan stabil menjadi semakin penting, terutama saat perbedaan interpretasi antarpeneliti masih mungkin muncul dalam analisis konvensional.

Dibangun di atas kerangka SWIFtS

SWx AI, atau Space Weather Intelligent Forecasting System, disiapkan BRIN dengan mengacu pada kerangka Space Weather Information and Forecast Services, disingkat SWIFtS. Sistem ini diarahkan untuk membuat prediksi cuaca antariksa lebih efisien tanpa terlalu bergantung pada pemeriksaan satu per satu oleh manusia.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa BRIN, Tiar Dani, menjelaskan bahwa tujuan utama pengembangan ini adalah menghadirkan hasil prediksi yang lebih cepat, otomatis, dan konsisten. Dengan pola kerja seperti itu, proses analisis tidak lagi harus sepenuhnya menunggu peninjauan manual atas data angka, grafik kompleks, dan hasil prediksi komputer.

Menggunakan kecerdasan buatan berbasis LLM

Dalam operasionalnya, SWx AI memanfaatkan kecerdasan buatan berbasis large language model atau LLM. Teknologi ini membantu mengolah data, membaca hasil analisis secara otomatis, dan berperan seperti asisten digital dalam pemantauan cuaca antariksa.

Sistem tersebut juga dapat menarik data terbaru dari berbagai sumber, mengolah hasil prediksi komputer, serta menganalisis gambar pengamatan Matahari. BRIN menilai pendekatan ini membuat alur kerja menjadi lebih ringkas karena tidak semua tahap harus dilakukan melalui pemeriksaan manual yang memakan waktu.

Dibatasi agar tetap relevan

BRIN juga merancang SWx AI agar tidak mudah menghasilkan informasi yang melenceng atau terlalu jauh dari konteks data. Karena itu, sistem membatasi data yang dianalisis hanya pada rentang waktu tertentu, misalnya 24 hingga 72 jam terakhir.

Selain pembatasan waktu, sistem ini memakai aturan yang telah ditetapkan untuk menelaah kondisi antariksa di Indonesia. Langkah tersebut dipakai untuk menjaga agar hasil analisis tetap relevan sekaligus mengurangi risiko kesalahan informasi yang kerap disebut halusinasi AI.

Disiapkan sebagai peringatan dini yang lebih efisien

Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, Emanuel Sungging Mumpuni, menyampaikan bahwa pengembangan ini diharapkan memperluas pemanfaatan hasil riset agar lebih mudah diakses berbagai pihak. Ia menekankan bahwa teknologi yang dibangun bukan hanya harus kuat secara teknis, tetapi juga berguna bagi pengguna yang membutuhkan informasi cepat.

“Melalui webinar ini, kami berharap SWx AI yang terhubung pada platform SWIFtS dapat menjadi sistem peringatan dini yang cepat dan efisien serta bermanfaat bagi periset, akademisi, hingga masyarakat luas,” kata Emanuel dalam keterangannya. BRIN menargetkan sistem ini dapat meningkatkan respons layanan cuaca antariksa di Indonesia saat aktivitas Matahari berpotensi menimbulkan gangguan teknologi.

Source: teknologi.bisnis.com
Exit mobile version