Tingkat pengangguran lulusan SMK di Jawa Timur tercatat hanya 1,49 persen. Angka itu menjadi penanda bahwa jalur pendidikan vokasi di provinsi tersebut tidak berhenti pada kelulusan, melainkan benar-benar mengantar siswa ke tahap berikutnya.
Di saat yang sama, serapan lulusan SMK Jatim juga menembus 91,46 persen. Capaian ini memperlihatkan bahwa lulusan vokasi di daerah itu makin dekat dengan kebutuhan kerja, usaha, dan studi lanjutan.
Di balik hasil tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai ada pola pembinaan yang membuat lulusan SMK lebih siap menghadapi masa setelah sekolah. Fokusnya bukan hanya menyiapkan tenaga kerja, tetapi juga membuka ruang untuk melanjutkan pendidikan dan membangun usaha sendiri.
Kunci yang disebut Khofifah ada pada program Bekerja, Melanjutkan, dan Wirausaha atau BMW. Program ini dipadukan dengan sertifikasi kompetensi serta praktik langsung di dunia industri agar lulusan memiliki bekal yang lebih kuat saat masuk ke jalur berikutnya.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan, 195.429 lulusan dari total 221.174 lulusan SMK di Jawa Timur telah mengikuti program BMW. Dari kelompok itu, jalur yang ditempuh pun beragam dan tidak bertumpu pada satu pilihan saja.
Sebanyak 55,83 persen lulusan yang mengikuti program tersebut sudah bekerja. Sementara itu, 20,79 persen memilih berwirausaha, dan 14,84 persen melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Masih ada 7,05 persen lulusan yang mengikuti pelatihan atau persiapan lainnya. Komposisi ini menunjukkan bahwa transisi setelah lulus tidak hanya diarahkan ke pasar kerja formal, tetapi juga ke penguatan kemandirian dan peningkatan kompetensi.
Khofifah menilai penguatan hubungan antara sekolah dan dunia usaha serta dunia industri semakin efektif. Ia menyampaikan pandangan itu di Surabaya, Senin (11/5), dengan menyorot pentingnya sertifikasi, pengalaman praktik, dan kedekatan dengan industri.
Tiga unsur tersebut dianggap menjadi penopang utama agar lulusan lebih siap menghadapi kebutuhan lapangan kerja maupun peluang usaha. Dengan begitu, pendidikan vokasi tidak hanya menghasilkan ijazah, tetapi juga kesiapan yang lebih nyata untuk dipakai setelah lulus.
Capaian 91,46 persen dan pengangguran 1,49 persen memberi gambaran bahwa serapan lulusan SMK di Jawa Timur bergerak ke arah yang positif. Pola itu sekaligus menguatkan posisi SMK sebagai jalur yang relevan bagi kebutuhan masa depan siswa di provinsi tersebut.
Bagi Khofifah, hasil yang terlihat sekarang menjadi bukti bahwa penguatan kompetensi dan kemitraan dengan industri memang memberi dampak langsung. Jalur BMW pun tampak menjadi salah satu faktor yang membuat lulusan SMK Jatim lebih fleksibel dalam menentukan langkah setelah sekolah.
Source: radarsurabaya.jawapos.com