Dorongan pemerintah daerah untuk ikut masuk ke Blok Ganal menunjukkan besarnya harapan atas potensi migas di lepas pantai itu. Namun di balik peluang tersebut, muncul pertanyaan yang lebih rumit: apakah daerah sanggup memikul investasi besar yang menuntut teknologi tinggi, modal besar, dan pengelolaan risiko yang ketat.
Anggota Dewan Energi Nasional Muhammad Kholid Syeirazi menilai beban terberat justru ada pada sisi pendanaan. Ia melihat Blok Ganal sebagai bagian dari Indonesia Deepwater Development atau IDD, sehingga karakter proyeknya tidak sederhana dan tidak cocok bila dibebankan ke daerah tanpa perhitungan matang.
Dalam skema participating interest, BUMD memang bisa ikut menikmati hasil dari kegiatan hulu migas. Tetapi posisi mereka bukan sebagai operator, sehingga daerah tetap harus menyediakan equity untuk bisa masuk ke dalam proyek.
Kondisi itu membuat tantangan fiskal daerah menjadi sangat nyata. Kholid menilai skema tersebut berpotensi berubah menjadi beban baru bila kemampuan pendanaan daerah tidak sebanding dengan besarnya kebutuhan investasi.
“Dalam praktiknya, BUMD akan kesulitan menyediakan dana dengan nilai investasi sangat besar. Karena ini memang investasinya jumbo,” ujar Kholid.
Ia juga menyinggung aturan yang memungkinkan daerah dengan PI 10% memperoleh dukungan dari kontraktor. Dukungan itu biasanya berbentuk talangan lebih dulu, lalu bagian BUMD dipotong setelah proyek mencapai pay off.
Pola seperti itu membuat daerah tidak langsung menikmati hasil proyek. Menurut Kholid, masa tunggu bisa berlangsung cukup lama, bahkan baru terasa setelah tahun pertama sampai ke-6 ketika pay off tercapai.
Di tengah beratnya kebutuhan modal, Kholid menilai opsi lain layak dipertimbangkan. Ia menyebut BUMN lebih siap menghadapi risiko teknis dan finansial yang melekat pada proyek hulu migas lepas pantai seperti Blok Ganal.
Meski begitu, skema tersebut tetap bergantung pada keputusan operator ENI dan Sinopec. Menurut Kholid, bila ada porsi participating interest yang dilepas, itu dapat menjadi strategi yang lebih aman, termasuk bila Pertamina sebagai BUMN masuk tanpa harus menanggung risiko eksplorasi.
Minat daerah terhadap Blok Ganal sendiri tidak lepas dari besarnya temuan cadangan migas di wilayah itu. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur meminta bagian hak pengelolaan melalui skema PI atas temuan cadangan minyak dan gas raksasa di lepas pantai blok tersebut.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kaltim Bambang Arwanto mengatakan temuan itu berasal dari Sumur Geliga dan Sumur Gula di wilayah kerja Blok Ganal. Dari hasil eksplorasi, potensi cadangan yang ditemukan diperkirakan lebih dari tujuh triliun kaki kubik gas dan sekitar 375 juta barel minyak.
Potensi sebesar itu menjadikan Blok Ganal sebagai aset strategis. Pada saat yang sama, skala proyeknya juga menuntut perencanaan yang hati-hati agar peluang besar tidak berubah menjadi tekanan keuangan bagi daerah yang ingin terlibat.
Source: mediaindonesia.com