Bagi suporter, persoalan utama Piala Dunia 2026 bukan lagi sekadar cepat habis atau tidaknya tiket, melainkan seberapa jauh biaya untuk benar-benar bisa hadir di stadion. Di tengah kabar bahwa 90 persen tiket sudah laku, kritik justru mengarah pada skema harga dinamis FIFA yang dianggap membuat turnamen terasa semakin jauh dari jangkauan banyak orang.
Keluhan itu muncul karena harga tiket tidak lagi terasa statis. Saat permintaan meningkat, harga bisa ikut naik, dan kondisi tersebut menekan penggemar yang memiliki anggaran terbatas.
Situasi ini memicu kekecewaan karena beban yang harus ditanggung suporter tidak berhenti di tiket pertandingan. Ongkos transportasi lokal dan tiket pesawat ikut masuk dalam hitungan, terutama bagi penonton yang berniat datang ke Amerika Serikat.
Di mata sebagian penggemar, kombinasi itu membuat Piala Dunia 2026 bukan hanya kompetisi untuk mendapatkan akses pembelian, tetapi juga soal kemampuan finansial. Antusiasme tinggi yang terlihat dari cepatnya penjualan justru berjalan beriringan dengan perdebatan soal keterjangkauan.
Presiden FIFA Gianni Infantino menanggapi sorotan tersebut dengan menekankan tingginya minat publik. Ia menyebut FIFA menerima 500 juta aplikasi tiket dan terus menambah jumlah tiket yang dijual.
Infantino juga mengakui adanya tiket dengan harga tinggi. Namun, ia menegaskan masih ada opsi yang lebih terjangkau bagi penggemar yang tidak memiliki anggaran besar.
“Memang ada tiket-tiket yang mahal, tapi ada juga yang terjangkau,” kata Infantino. Pernyataan itu menunjukkan FIFA melihat permintaan yang besar sebagai tanda kuatnya daya tarik turnamen.
Di sisi lain, penjualan yang bergerak cepat tidak otomatis meredakan kritik. Bagi banyak suporter, yang paling terasa justru beban total untuk menyaksikan pertandingan secara langsung.
FIFA sendiri menempatkan tiket sebagai salah satu sumber pemasukan, bukan tumpuan utama keuangan organisasi. Infantino menyebut pengembangan sepak bola global lebih banyak ditopang oleh sponsor, kerja sama komersial, dan hak siar.
“Tanpa pemasukan, kita tak bisa mengembangkan sepakbola. Kami harus fokus ke sponsor, televisi, bukan cuma tiket. Tapi hal terpenting yang selalu menuntun kami adalah semua 211 anggota itu setara di mata kami,” imbuh Infantino.
Pernyataan itu memperlihatkan posisi FIFA di tengah kritik yang berkembang. Namun, bagi suporter, isu harga tetap menjadi titik paling sensitif karena langsung menentukan apakah mereka bisa menyaksikan turnamen terbesar sepak bola dunia itu dari tribun atau tidak.





