Di tengah lingkungan Antartika yang keras, ada seekor burung laut yang justru menjadikan wilayah itu sebagai rumah sepanjang tahun. Antarctic shag tidak memilih bermigrasi jauh ketika suhu turun, melainkan tetap bertahan di perairan dingin dan kawasan pesisir yang bagi banyak burung lain terasa terlalu berat untuk dihuni.
Keberadaan burung ini paling sering terlihat di sekitar Antarctic Peninsula, South Shetland Island, dan Elephant Island. Di area tersebut, Antarctic shag hidup dalam koloni dekat laut dan tetap aktif meski cuaca es datang silih berganti.
Penampilan yang mudah dikenali dari kejauhan
Ciri yang paling mencolok dari Antarctic shag ada pada wajahnya yang tampak bermata biru cerah. Warna itu sebenarnya berasal dari kulit di sekitar mata, bukan dari bola mata, sehingga kesannya langsung menarik perhatian.
Tubuhnya juga punya kombinasi yang khas. Bulu hitam putih, kaki merah muda, serta tonjolan kuning di atas paruh yang disebut caruncle membuat burung ini berbeda dari kormoran lain.
Meski tubuhnya tidak besar dan bobotnya sekitar 3 kilogram, penampilan tersebut membuat Antarctic shag mudah dikenali. Dalam habitat yang dipenuhi warna putih es dan biru laut, ciri fisik itu menjadi pembeda yang jelas.
Bulu rapat menjadi pelindung utama
Daya tahan Antarctic shag terhadap air es bertumpu pada bulunya yang sangat rapat dan berlapis. Struktur itu kedap air dan membantu menjaga panas tubuh tetap stabil di lingkungan yang sangat dingin.
Berbeda dari kormoran lain yang perlu menjemur sayap setelah berenang, burung ini tidak memerlukannya. Air dingin tidak langsung menyentuh kulitnya, sehingga tubuh tetap terlindungi setelah menyelam.
Kemampuan itu penting karena habitatnya menuntut perlindungan ekstra dari suhu ekstrem. Bagi Antarctic shag, bulu bukan sekadar penutup tubuh, melainkan perisai utama untuk bertahan hidup.
Penyelam tangguh di laut dingin
Di laut es, Antarctic shag juga menunjukkan kemampuan berburu yang efisien. Dengan kaki berselaput yang kuat, burung ini dapat menyelam hingga kedalaman 24 meter untuk mencari makan.
Makanannya terdiri dari ikan kecil dan krustasea yang hidup di bawah permukaan laut. Tubuh yang aerodinamis membantu gerakannya tetap lincah saat mengejar mangsa di air dingin.
Kemampuan menyelam ini membuat Antarctic shag tidak hanya bertahan, tetapi juga memanfaatkan laut sebagai sumber makanan utama. Di lingkungan yang keras, efisiensi saat berburu menjadi bagian penting dari kelangsungan hidupnya.
Cara berkembang biak di pesisir berbatu
Saat musim kawin tiba, Antarctic shag membentuk koloni di tebing, lereng berbatu, dan area pesisir. Di lokasi itu, mereka membangun sarang berbentuk kerucut yang terlihat seperti gunung berapi mini.
Sarang tersebut dibuat dari bulu, rumput laut, dan material pantai lain yang direkatkan dengan kotoran. Cara ini menunjukkan bagaimana burung ini menyesuaikan diri dengan bahan yang tersedia di lingkungan pesisir Antartika.
Perawatan anak juga dilakukan dengan pembagian peran yang jelas. Induk jantan dan betina bergantian mengerami telur hingga menetas, lalu induk betina menjaga anakan agar tetap hangat sementara induk jantan mencari makan.
Pola itu memperlihatkan strategi reproduksi yang rapi di tengah kondisi ekstrem. Di benua es, kemampuan mengatur sarang, menjaga telur, dan memenuhi kebutuhan anak menjadi bagian penting dari keberhasilan Antarctic shag mempertahankan hidupnya sepanjang tahun.
Source: www.idntimes.com