Tekanan biaya membuat cara bank besar memburu AI enterprise ikut berubah. BCA dan BNI kini tidak lagi mengejar banyak proyek sekaligus, melainkan memilih use case yang paling cepat memberi hasil nyata bagi operasional dan bisnis.
Pergeseran ini muncul di tengah kondisi makroekonomi yang menantang, pelemahan rupiah, serta harga solusi teknologi yang ikut tertekan biaya kurs. Dalam situasi seperti itu, efisiensi menjadi ukuran utama, bukan sekadar banyaknya inisiatif AI yang dijalankan.
BCA memperketat seleksi proyek AI
EVP Enterprise IT & Data Management BCA, Lily Wongso, mengatakan kenaikan harga akibat tekanan kurs membuat perseroan lebih berhati-hati dalam belanja modal IT. Karena itu, BCA memperketat kurasi use case AI agar tetap sejalan dengan strategi bisnis perusahaan.
BCA tidak menghentikan pengembangan AI, tetapi mengarahkan anggaran ke proyek yang dinilai paling relevan. Lily menegaskan bahwa perusahaan mencari use case yang paling sesuai dengan strategi dan bisa menghasilkan dampak yang lebih besar.
Bagi BCA, AI masih dianggap terlalu penting untuk ditunda. Evaluasi internal menunjukkan penerapan AI di lingkungan kerja BCA dapat menghasilkan efisiensi proses minimum 30%, dan pada fungsi tertentu bisa mencapai 70% hingga 80%.
BNI pilih model yang lebih ringkas
Langkah serupa juga diambil BNI, tetapi dengan penyesuaian yang lebih tajam pada ukuran solusi. SVP AI & Data Analytics Division BNI, Handika Hakim, menyebut perubahan lanskap ekonomi global dan ketegangan geopolitik ikut memengaruhi harga solusi IT sehingga investasi AI perlu direprioritasi.
BNI kini memilah use case yang high value dan menurunkan kompleksitas implementasinya agar pengerjaannya lebih singkat. Dengan pendekatan itu, investasi tetap berjalan, tetapi diarahkan ke proyek yang lebih fokus dan tidak melebar tanpa tujuan yang jelas.
BNI juga memasang batas efisiensi yang tegas. Prinsip yang dijaga adalah biaya teknologi tidak boleh lebih mahal daripada biaya mempekerjakan tenaga manusia secara konvensional, sehingga setiap implementasi harus menunjukkan manfaat yang nyata.
Untuk kuartal III/2026 dan kuartal IV/2026, BNI cenderung mengarah ke model AI yang lebih kecil atau smaller model. Pilihan ini dipakai untuk menekan biaya sekaligus mempercepat proses internal yang dibutuhkan perusahaan.
Hasil nyata jadi penentu
Di fase seperti sekarang, nilai sebuah proyek AI dinilai dari dampak yang bisa diukur. Penghematan biaya operasional, percepatan proses internal, dan kenaikan produktivitas menjadi alasan utama mengapa bank tetap melanjutkan investasi, meski seleksinya makin ketat.
Salah satu contoh konkret datang dari BNI lewat uji coba AI pada proses Know Your Customer atau KYC. Proses pembedahan dokumen yang semula memakan waktu lima hari dapat dipangkas menjadi hanya hitungan jam.
Contoh itu menunjukkan bahwa bank tidak hanya mengejar tren teknologi. Yang dicari adalah hasil yang bisa langsung dirasakan, terutama ketika tekanan biaya membuat setiap proyek harus punya nilai tambah yang jelas.
Fondasi data tetap krusial
Senior Vice President APAC Cloudera, Remus Lim, menilai sikap perbankan yang lebih pragmatis di tengah tantangan ekonomi memang tepat. Ia mengingatkan bahwa organisasi tidak seharusnya membeli AI hanya karena ikut tren tanpa tujuan akhir yang jelas.
Cloudera memusatkan bantuan pada pengelolaan fondasi data agar mendukung tiga pilar bisnis utama, yaitu menekan biaya, meningkatkan pendapatan, dan memitigasi risiko. Remus menyebut investasi AI akan lebih penting jika diarahkan ke tiga use case itu karena tanpa tujuan tersebut organisasi bisa tertinggal dan menjadi tidak relevan.
Sebagai mitra teknologi jangka panjang bagi BCA dan BNI, Cloudera juga menekankan pentingnya tata kelola data yang bersih sebelum masuk ke tahap pemodelan AI. Fondasi data yang rapi dianggap menjadi syarat utama agar AI benar-benar menghasilkan nilai tambah bagi pengguna akhir.
Source: teknologi.bisnis.com