Batas Pembentukan Bintang Bimasakti Kini Lebih Jelas, Aktivitasnya Mulai Menurun di 40.000 Tahun Cahaya

Batas Bimasakti kini tidak lagi hanya dibayangkan sebagai pinggiran galaksi yang samar. Penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa wilayah yang paling masuk akal untuk disebut “ujung” Bimasakti adalah zona tempat pembentukan bintang mulai melemah tajam.

Temuan ini memberi ukuran yang lebih konkret bagi galaksi tempat Tata Surya berada. Berdasarkan studi yang dimuat dalam jurnal Astronomy & Astrophysics, sebagian besar bintang di Bimasakti lahir dalam jarak sekitar 40.000 tahun cahaya dari pusat galaksi.

Batas yang dimaksud bukan tepi fisik yang keras. Wilayah itu lebih tepat dipahami sebagai ambang ketika aktivitas kelahiran bintang turun dengan jelas, meski bintang masih tetap ditemukan di area yang lebih luar.

Wilayah aktif membentuk bintang

Peneliti menempatkan batas tersebut pada kisaran 11,28 hingga 12,15 kiloparsec dari pusat galaksi. Jika diubah ke satuan yang lebih umum dipakai, jaraknya setara sekitar 35.000 hingga 40.000 tahun cahaya.

Pada rentang inilah pembentukan bintang masih berlangsung cukup aktif. Setelah melewati zona itu, bintang baru tetap bisa muncul, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan bagian yang lebih dekat ke pusat galaksi.

Dengan kata lain, garis pembatas ini bukan menandai tempat bintang berhenti ada. Garis itu menandai area ketika proses lahirnya bintang baru mulai merosot secara signifikan.

Data dari puluhan ribu bintang raksasa

Untuk mencapai kesimpulan tersebut, tim astronom internasional menelaah usia lebih dari 100.000 bintang raksasa. Mereka menggabungkan data dari survei Gaia, Lamost-DR3, dan APOGEE-DR17.

Data itu kemudian dipadukan dengan simulasi komputer. Kombinasi tersebut membantu para ilmuwan membaca hubungan antara usia bintang dan jaraknya dari pusat Bimasakti dengan lebih jelas.

Dari sana, sejarah pertumbuhan galaksi dapat ditelusuri lewat pola sebaran bintang. Wilayah yang lebih awal aktif membentuk bintang bisa dibedakan dari area yang berkembang pada tahap lebih lambat.

Pola usia yang membentuk huruf U

Salah satu petunjuk utama dalam studi ini adalah pola usia bintang yang menyerupai kurva huruf U. Di bagian pusat, bintang cenderung lebih tua karena pembentukan bintang berlangsung lebih awal di kawasan yang kaya gas dan debu.

Semakin menjauh dari pusat, usia bintang menjadi lebih muda sampai mencapai titik tertentu. Setelah melewati jarak sekitar 35.000 hingga 40.000 tahun cahaya, pola itu berbalik dan bintang tampak kembali lebih tua.

Titik balik itulah yang dipakai sebagai penanda wilayah pembentukan bintang aktif. Pola ini menjadi dasar utama untuk membaca letak batas galaksi dari sisi aktivitasnya, bukan dari batas fisiknya.

Bintang di luar batas tetap ada

Keberadaan bintang di luar zona aktif tidak berarti wilayah itu kosong. Banyak bintang di bagian luar diduga berasal dari area yang lebih dalam, lalu bergerak perlahan ke jarak yang lebih jauh.

Perpindahan semacam ini dikenal sebagai migrasi radial. Prosesnya berlangsung bertahap dan dipengaruhi gravitasi dari lengan spiral atau struktur batang di pusat galaksi.

Orbit bintang yang cenderung hampir melingkar juga mendukung dugaan bahwa perpindahan itu terjadi secara alami dan memerlukan waktu sangat panjang. Karena itu, batas pembentukan bintang tidak sama dengan batas keberadaan bintang.

Mengapa aktivitasnya melemah

Penyebab pasti turunnya pembentukan bintang di wilayah luar masih terus diteliti. Salah satu dugaan yang disebut peneliti adalah pengaruh resonansi gravitasi dari batang pusat galaksi, yang dikenal sebagai outer lindblad resonance.

Efek ini dapat mengganggu aliran gas dan menahannya lebih banyak di bagian dalam galaksi. Ada juga kemungkinan lain, yakni galactic warp atau lengkungan cakram galaksi, yang bisa menyebarkan gas sehingga kerapatannya tidak lagi cukup untuk membentuk bintang baru.

Selain itu, gas di bagian luar diduga terlalu tipis untuk mendingin dan menggumpal. Tanpa kondisi tersebut, proses awal pembentukan bintang akan sulit berlangsung dengan efektif.

Masuk kelompok galaksi cakram Tipe-II

Studi ini juga menempatkan Bimasakti ke dalam kategori galaksi cakram Tipe-II atau down-bending disk. Ciri utamanya adalah penurunan tajam kepadatan bintang di bagian luar galaksi.

Penelitian tersebut menyebut sekitar 60 persen galaksi serupa di alam semesta lokal memiliki profil yang sama. Artinya, struktur Bimasakti mengikuti pola yang cukup umum dalam evolusi galaksi.

Dengan batas pembentukan bintang yang kini lebih jelas, para ilmuwan memiliki pijakan yang lebih kuat untuk memetakan sejarah pertumbuhan Bimasakti. Temuan ini membantu menjelaskan kapan pembentukan bintang paling aktif terjadi dan bagaimana galaksi tempat Tata Surya berada terbentuk menjadi seperti sekarang.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button