Bagi pemilik mobil diesel, pembahasan soal B50 bukan hanya soal bahan bakar baru, tetapi juga soal kesiapan mesin dan kecocokan model. Sejumlah kendaraan disebut sudah siap pakai, sementara sebagian lain masih perlu melihat kemungkinan penyesuaian sebelum rutin menggunakannya.
Mulai 1 Juli 2026, biodiesel B50 dijadwalkan masuk sebagai campuran baru untuk kendaraan diesel di Indonesia. Komposisinya terdiri dari 50 persen bahan bakar nabati berbasis FAME dari minyak sawit dan 50 persen solar fosil.
Model diesel yang masuk daftar paling siap
Di antara model yang disebut kompatibel, Toyota Kijang Innova Diesel menjadi salah satu sorotan utama. Kendaraan ini disebut sebagai unit uji utama dan dilaporkan berhasil menjalani perjalanan jarak jauh dengan B50.
Toyota Fortuner juga masuk kelompok kendaraan yang dinilai mendukung penggunaan B50. Selain itu, Toyota Hiace turut disebut sebagai model diesel yang bisa menggunakan campuran bahan bakar tersebut.
Dari lini pikap, Toyota Hilux disebut memiliki mesin yang mendukung biodiesel B50. Nama Hilux Rangga juga ikut masuk dalam daftar yang sama, sehingga keduanya dipandang berada dalam kelompok yang siap menyambut bahan bakar baru ini.
Di luar Toyota, Mitsubishi Pajero Sport juga disebut sebagai salah satu SUV diesel yang berpotensi besar memakai B50. Penyebutan model ini menunjukkan bahwa kesiapan tidak hanya terbatas pada satu merek, tetapi juga mencakup kendaraan diesel lain yang sudah dinilai relevan.
Kendaraan yang masih perlu dicermati lebih lanjut
Tidak semua model langsung masuk kategori paling aman untuk penggunaan rutin tanpa catatan. Beberapa kendaraan disebut biasanya bisa memakai B50, tetapi referensi menekankan adanya kemungkinan penyesuaian pada sistem atau kebutuhan teknis tertentu.
Kelompok ini mencakup Isuzu Panther, Suzuki Ertiga Diesel, KIA Grand Sedona, Hyundai Santa Fe, dan Renault Duster. Bagi model-model tersebut, kecocokan tetap ada, namun pemiliknya perlu memperhatikan apakah diperlukan penyesuaian sebelum penggunaan harian dilakukan.
Catatan ini menjadi penting terutama untuk kendaraan yang sudah berumur atau yang tidak termasuk dalam daftar uji utama. Dalam konteks B50, kesesuaian mesin tetap menjadi penentu utama sebelum bahan bakar campuran dipakai secara rutin.
Tidak terbatas pada mobil penumpang
B50 tidak diarahkan hanya untuk mobil pribadi. Referensi juga menyebut bahan bakar ini dapat digunakan pada kendaraan niaga dan alat berat bermesin diesel.
Jenis kendaraan yang tercakup meliputi truk, tractor, bulldozer, dan excavator. Cakupan itu memperlihatkan bahwa B50 diposisikan untuk mendukung kebutuhan transportasi dan sektor kerja yang lebih luas.
Kenapa B50 didorong pemerintah
Pemerintah menempatkan B50 sebagai kelanjutan dari program biodiesel setelah B40. Arah kebijakan ini dikaitkan dengan upaya mengurangi ketergantungan pada impor solar dan memperkuat kemandirian energi nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa impor solar akan dihentikan saat B50 mulai berjalan. Ia mengatakan, “Solar kita tidak impor lagi. Tahun 2026, pada 1 Juli 2026 kita stop, B50 masuk.”
Pernyataan serupa juga datang dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Ia menegaskan program B50 tetap akan dilanjutkan meski harga minyak dunia turun di bawah USD 100 per barel.
Selain faktor harga, B50 juga diposisikan sebagai bagian dari mitigasi risiko geopolitik. Artinya, pasokan energi diharapkan tidak terlalu bergantung pada kondisi eksternal yang mudah berubah.
Bahan baku dan target dampaknya
Keberhasilan implementasi B50 tidak hanya bergantung pada kendaraan yang cocok, tetapi juga pada pasokan bahan baku dan pembiayaan dari industri sawit. Stok sawit domestik bahkan disebut sebagai salah satu faktor penting agar program berjalan sesuai rencana.
Pemerintah menargetkan penggunaan B50 dapat menekan konsumsi solar fosil hingga 4 juta kiloliter per tahun. Kebijakan ini juga disebut berpotensi menghemat fiskal Rp48 triliun pada paruh kedua 2026.
Bahan baku biodiesel B50 umumnya berasal dari CPO dan limbah minyak goreng. Prosesnya meliputi pengumpulan feedstock, pretreatment, transesterifikasi untuk FAME atau hydrotreatment untuk HVO, lalu pemurnian dan blending dengan diesel mineral hingga mencapai kadar B50.
Dengan komposisi dan target tersebut, pemilik mobil diesel yang masuk daftar kompatibel menjadi kelompok yang paling siap menghadapi perubahan ini. Sementara itu, kendaraan yang belum termasuk daftar utama tetap perlu memeriksa kecocokan mesin dan kemungkinan penyesuaian sebelum B50 digunakan secara rutin.
Source: www.suara.com