Piala Dunia 2026 diperkirakan membawa suasana pertandingan yang jauh lebih ketat dari biasanya. IFAB dan FIFA menyiapkan seperangkat aturan baru yang menyasar area paling rawan polemik, mulai dari perilaku pemain saat berkonfrontasi, aksi protes massal, sampai celah yang selama ini muncul lewat penggunaan VAR.
Salah satu fokus terbesarnya ada pada upaya membuat laga lebih sulit dimanipulasi. Enam perubahan utama itu dirancang agar pertandingan berjalan lebih adil, lebih cepat, dan tidak mudah dipengaruhi oleh tindakan yang mengulur waktu atau memancing kekacauan di lapangan.
Kartu merah untuk gestur yang dianggap menutup-nutupi ucapan
Aturan baru yang paling menyita perhatian menyangkut larangan menutup mulut dengan tangan ketika pemain sedang adu argumen. Jika gestur itu muncul dalam situasi yang menimbulkan kecurigaan adanya ucapan rasis, diskriminatif, atau menghina, wasit bisa langsung mengeluarkan kartu merah.
Pierluigi Collina menjelaskan bahwa gerakan menutup mulut saat percakapan biasa tidak menjadi masalah. Namun, kondisi itu berubah ketika konfrontasi terjadi, karena gestur tersebut bisa dipakai untuk menyembunyikan ucapan yang tidak pantas.
Aksi keluar lapangan sebagai protes juga makin berisiko
IFAB juga memperkeras sanksi untuk tim yang memilih meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit. Kebijakan ini muncul setelah insiden final Piala Afrika, ketika Senegal meninggalkan lapangan saat menghadapi Maroko dan laga tertunda selama 16 menit.
Dalam aturan yang disiapkan, pemain yang ikut boikot dapat langsung diganjar kartu merah. Ofisial tim di bangku cadangan juga bisa terkena sanksi bila terbukti memicu aksi mogok, sedangkan tim berisiko dinyatakan kalah otomatis jika pertandingan terhenti atau batal.
VAR mendapat ruang koreksi yang lebih luas
Teknologi Video Assistant Referee juga mendapat kewenangan tambahan yang lebih tegas. Untuk pertama kalinya sejak digunakan pada 2017, VAR bisa mengoreksi tiga situasi tertentu, yaitu kesalahan tendangan sudut, kartu kuning kedua yang keliru, dan salah identitas pemain yang menerima kartu.
Koreksi untuk tendangan sudut hanya boleh dilakukan jika bola belum dieksekusi. Namun, VAR tetap tidak diberi wewenang untuk mengubah keputusan goal kick yang seharusnya menjadi tendangan sudut.
Pengulur waktu akan semakin diburu
IFAB menilai aturan delapan detik untuk kiper sudah cukup efektif, tetapi kini menambah tekanan baru dengan hitungan mundur lima detik bagi pemain yang sengaja memperlambat permainan. Jika kiper melanggar, lawan akan mendapat tendangan sudut.
Aturan serupa juga berlaku untuk lemparan ke dalam. Jika pemain terlalu lama, hak lemparan berpindah ke lawan, sementara pemain yang diganti wajib meninggalkan lapangan dalam waktu maksimal 10 detik.
Pemain cedera tak lagi bisa terlalu lama di lapangan
Pemain yang menerima perawatan medis di lapangan akan diwajibkan keluar selama satu menit setelah permainan kembali berjalan. Kebijakan ini disusun untuk menekan taktik pura-pura cedera yang kerap dipakai untuk memutus ritme lawan atau memberi instruksi tambahan.
Ada beberapa pengecualian yang tetap berlaku, termasuk cedera kiper, benturan yang melibatkan penjaga gawang, cedera kepala, dugaan gegar otak, serta cedera akibat pelanggaran berat yang diganjar kartu kuning atau merah. Collina juga mengakui bahwa belum ada solusi yang disepakati semua pihak untuk mencegah kiper berpura-pura cedera.
Gol dari set piece juga tidak lagi aman dari koreksi
VAR nantinya juga dapat meninjau pelanggaran tim penyerang yang terjadi sebelum bola aktif dalam situasi tendangan bebas atau tendangan sudut. Jika pelanggaran itu terbukti berpengaruh langsung terhadap gol atau penalti, wasit bisa memerintahkan pengulangan set piece dan memberikan sanksi disiplin yang sesuai.
Langkah ini dibuat untuk menutup celah yang selama ini membuat pelanggaran tertentu lolos karena terjadi sebelum bola hidup. Collina menilai perubahan itu penting agar gol tidak lahir dari situasi yang sejak awal sudah diawali pelanggaran.
Jeda pendinginan disiapkan untuk cuaca ekstrem
Selain rangkaian aturan inti tadi, FIFA juga menyiapkan cooling break selama tiga menit pada menit ke-22 di setiap babak. Jeda pendinginan ini disiapkan untuk menjaga kondisi fisik pemain di tengah potensi suhu ekstrem di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Seluruh aturan baru itu sudah disosialisasikan kepada pelatih dan pemain dari 48 negara peserta. Sebanyak 170 wasit juga dijadwalkan mengikuti seminar akhir persiapan di Miami agar penerapan regulasi berlangsung seragam di Piala Dunia 2026.
Source: www.medcom.id




