Asap Minyak Iran Menyebar Jauh, Hujan Hitam dan Ancaman Racun Tak Cepat Reda

Ancaman dari serangan udara di Iran tidak berhenti pada kerusakan fasilitas minyak. Dampaknya juga merembet ke udara, air, dan kesehatan warga yang tinggal di sekitar wilayah terdampak.

Di sejumlah area yang menjadi sasaran, kebakaran minyak berlangsung selama berhari-hari dan memunculkan asap hitam pekat. Laporan tentang hujan hitam ikut muncul di wilayah terdampak, sehingga kekhawatiran soal pencemaran lingkungan langsung meningkat.

Asap dari depot minyak yang terbakar membawa campuran polutan berbahaya. Selain jelaga, proses pembakaran juga melepaskan hidrokarbon aromatik polisiklik, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida yang dapat mengganggu manusia maupun ekosistem.

Ketika zat-zat itu naik ke atmosfer lalu bercampur dengan uap air, hujan bisa turun membawa kembali partikel berbahaya tersebut. Dalam kondisi tertentu, pH air hujan menurun dan memicu hujan asam yang merugikan tanah, tumbuhan, serta badan air di sekitarnya.

U.S. Environmental Protection Agency atau EPA menjelaskan bahwa hujan asam dapat memberi dampak buruk pada kehidupan tumbuhan dan hewan. Perubahan pH pada tanah dan air membuat lingkungan alami lebih sulit menopang pertumbuhan tanaman dan biota air.

Masalah lain muncul dari pergerakan polutan melalui sistem drainase air hujan di Teheran. Saat tumpahan minyak masuk ke aliran tersebut, zat pencemar berpotensi menyebar lebih jauh ke tanah dan badan air alami di sekitarnya.

Laporan pencemaran air di sekitar Teheran juga menimbulkan perhatian terhadap senyawa yang berpotensi karsinogenik. Di tengah tekanan air yang sudah tinggi dan kekeringan yang dihadapi Iran, kondisi ini membuat akses terhadap air bersih semakin sulit.

Kekhawatiran serupa juga muncul karena kebakaran minyak menghasilkan karbon hitam. Partikel ini dapat masuk ke atmosfer, menyerap panas, dan ikut mempercepat perubahan iklim dengan mendorong kenaikan suhu.

Dalam skala besar, jelaga dari kebakaran semacam ini bisa terbawa angin sangat jauh. Model pergerakan asap dari serangan di Iran bahkan menunjukkan sebagian jelaga dapat mencapai Siberia, wilayah yang memiliki banyak gletser.

Dampaknya pernah terlihat pada kebakaran minyak di Perang Teluk, ketika karbon hitam menempel di permukaan es dan menurunkan daya pantul sinar Matahari. Akibatnya, es lebih cepat menyerap panas dan suhu meningkat.

Di sisi kesehatan, paparan asap dari kebakaran minyak dapat memicu gangguan pernapasan, masalah kardiovaskular, risiko kanker paru-paru, hingga kerusakan sistemik termasuk gangguan neurologis. CCAC menyebut risikonya bisa lebih berat bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan.

Kondisi di wilayah konflik membuat perlindungan warga tidak selalu memadai. Akses masker dan perlindungan di dalam ruangan bisa terbatas, sementara pemantauan lingkungan juga sulit dilakukan secara utuh karena pembatasan internet, kendala satelit, dan banyaknya insiden yang membuat api serta polutan terus bergerak mengikuti aliran udara dan air.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version