AS Perketat Jalur Masuk Demi Cegah Ebola Kongo, Bandara Ikut Disiagakan

Pemerintah Amerika Serikat memperlakukan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai ancaman yang harus ditahan sebelum menyeberang ke wilayahnya. Langkah yang diambil bukan hanya memperketat pintu masuk, tetapi juga memperluas penyaringan di bandara dan menyiapkan penugasan darurat untuk staf tambahan.

Kebijakan itu muncul saat Organisasi Kesehatan Dunia menyebut wabah strain langka Bundibugyo sebagai wabah Ebola terbesar ketiga yang pernah tercatat. WHO juga menetapkannya sebagai keadaan darurat kesehatan publik yang menjadi perhatian internasional, sehingga respons global ikut mengerucut pada upaya mencegah penyebaran lintas negara.

Di dalam negeri, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau CDC memberlakukan pembatasan masuk selama 30 hari bagi orang yang berada di Republik Demokratik Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan dalam 21 hari terakhir. Aturan ini juga berlaku bagi penduduk tetap sah, termasuk pemegang Green Card.

CDC tidak berhenti pada pembatasan administratif. Lembaga itu juga menyaring kedatangan dari negara-negara tersebut di tiga bandara di Amerika Serikat, sambil menambah kesiapan personel untuk memperluas pengawasan di titik masuk.

Untuk mendukung langkah itu, CDC meminta staf menjadi sukarelawan dalam penugasan darurat. Rekrutmen ini diperluas di luar kelompok biasa penanggap darurat, karena proses penyaringan kedatangan mulai ditingkatkan.

Sikap pemerintahan Presiden Donald Trump terlihat tegas melalui pernyataan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Ia menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan kasus Ebola masuk ke Amerika Serikat, sembari menyebut Departemen Luar Negeri bersama CDC dan HHS bekerja keras agar krisis tetap berada di negara-negara yang terdampak.

Kekhawatiran Washington tidak lepas dari situasi di Republik Demokratik Kongo yang terus memburuk. Otoritas kesehatan mencatat dugaan 220 kematian dan 900 kasus, angka yang membuat perhatian internasional meningkat tajam.

Risiko itu juga meluas ke warga AS di luar negeri. Dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah membahas fasilitas karantina di Kenya untuk warga AS yang terpapar Ebola, meski Kenya belum menyetujui rencana tersebut.

Pembicaraan mengenai karantina menunjukkan upaya pencegahan yang tidak hanya berpusat pada bandara. Dalam wabah Ebola 2014, warga AS yang kembali ke negara itu memang dirawat di Amerika Serikat, sehingga pengalaman sebelumnya ikut memengaruhi kehati-hatian saat ini.

Kewaspadaan pemerintah AS semakin naik setelah seorang warga negara AS yang bekerja merawat pasien di Republik Demokratik Kongo sebagai misionaris medis dinyatakan tertular Ebola. Ia kemudian dipindahkan ke Jerman untuk menjalani perawatan bersama lima orang lain yang juga terpapar, sementara seorang orang ketujuh dibawa ke Republik Ceko.

The Washington Post, mengutip lima orang yang mengetahui respons AS terhadap Ebola, melaporkan bahwa Gedung Putih sempat menolak kepulangan pasien misionaris medis itu ke Amerika Serikat. Penolakan itu membuat evakuasi dan perawatan sempat tertunda, di tengah fokus besar Washington untuk menahan wabah agar tidak keluar dari wilayah yang sudah terdampak.

Di sisi lain, pemerintah AS juga meningkatkan bantuan agar wabah bisa dikendalikan di sana. Kombinasi antara pengawasan bandara, pembatasan masuk, dan dorongan penanganan di luar negeri menjadi garis pertahanan utama yang kini dijalankan Washington.

Exit mobile version