Kebiasaan minum banyak suplemen sekaligus kembali jadi sorotan setelah sebuah video viral memperlihatkan tumpukan vitamin dari berbagai merek diminum dalam satu waktu. Bagi tenaga kesehatan, yang paling mengkhawatirkan bukan sekadar jumlah pilnya, melainkan cara tubuh menerima campuran zat aktif yang belum tentu cocok jika ditelan bersamaan.
Di balik kesan praktis itu, ada risiko yang sering luput diperhatikan. Suplemen tetap mengandung bahan aktif yang diproses tubuh, sehingga kombinasi yang tidak tepat dapat membuat penyerapan tidak optimal dan justru menambah beban pada organ tertentu.
Zat aktif yang saling mengganggu
Apoteker Heni menilai kebiasaan mengonsumsi banyak suplemen sekaligus dapat membuat manfaatnya tidak maksimal, bahkan berisiko pada kondisi tertentu. Ia menekankan bahwa setiap suplemen punya aturan konsumsi yang berbeda agar penyerapan zat aktif berjalan lebih baik.
Saat beberapa produk diminum bersamaan, kandungannya bisa saling mengganggu di saluran cerna. Heni menyoroti kemungkinan interaksi antara zat besi dan zinc dalam multivitamin dengan kalsium, karena zat-zat tersebut dapat bersaing saat diserap di usus.
Akibat persaingan itu, penyerapan tidak berlangsung optimal. Artinya, menelan lebih banyak suplemen dalam satu waktu tidak otomatis memberi manfaat yang lebih besar bagi tubuh.
Kandungan yang menumpuk tanpa disadari
Masalah lain muncul ketika beberapa suplemen ternyata memuat zat yang sama. Dalam pengamatan Heni terhadap tumpukan suplemen yang dikonsumsi Rei, total vitamin B6 yang masuk disebut mencapai 80 mg dalam sekali minum.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa kandungan tertentu bisa bertumpuk tanpa disadari. Ketika beberapa produk dikonsumsi sekaligus, tubuh bisa menerima lebih banyak zat aktif daripada yang sebenarnya diperlukan.
Pada saat yang sama, akumulasi itu tidak selalu berbanding lurus dengan manfaat. Jika penyerapan terganggu sejak awal, jumlah yang lebih besar justru tidak memberi hasil yang lebih baik.
Bukan pengganti pola makan
Kekeliruan lain yang kerap muncul adalah anggapan bahwa suplemen sama amannya dengan makanan seperti buah-buahan. Robert J. Fontana, MD, profesor kedokteran dari University of Michigan, mengingatkan bahwa suplemen tetap bukan sesuatu yang bisa dikonsumsi sembarangan hanya karena dijual bebas.
Olivia Thomas, MS, RD, LDN dari Boston Medical Center juga menegaskan bahwa suplemen hanyalah pelengkap. Ia mengingatkan bahwa suplemen bukan jalan pintas untuk menjadi sehat dan tidak bisa menggantikan pola makan seimbang.
Peringatan itu penting karena penggunaan yang berlebihan atau tidak tepat dapat menimbulkan risiko yang sebenarnya bisa dihindari. Di titik ini, cara minum, dosis, dan kombinasi produk menjadi sama pentingnya dengan jenis suplemennya.
Organ yang perlu lebih hati-hati
Risiko yang lebih serius disebut perlu diwaspadai oleh orang dengan kondisi medis tertentu. Cindy Reuter dari Dartmouth Health mengingatkan bahwa penderita gangguan hati, ginjal, jantung, hingga pasien kanker harus ekstra berhati-hati saat mengonsumsi suplemen.
Alasannya, hati dan ginjal bertugas menyaring zat yang masuk ke tubuh. Jika organ tersebut dibebani dosis tinggi sekaligus, risiko kelelahan atau kerusakan bisa meningkat.
Peringatan serupa juga berlaku bagi ibu hamil dan menyusui. Kelompok ini dianjurkan berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi produk apa pun, termasuk suplemen yang umum dijual di pasaran.
Kasus yang ramai dibicarakan lewat video Reizuka Ari itu pada akhirnya membuka pembicaraan yang lebih luas soal cara konsumsi suplemen yang tepat. Sorotan utamanya tetap sama, yakni bukan hanya berapa banyak pil yang diminum, tetapi juga bagaimana zat-zat di dalamnya saling berinteraksi dan diproses tubuh.
Source: www.suara.com