If Wishes Could Kill menempatkan bahaya terbesar bukan pada hantu atau kutukan itu sendiri, melainkan pada kebiasaan remaja mencari jalan cepat untuk menyelesaikan masalah. Dari sana, drama ini berubah menjadi kisah tentang keputusan impulsif yang memancing konsekuensi jauh lebih mahal daripada keinginan awalnya.
Pusat ketegangannya datang dari aplikasi misterius Girigo yang mampu mengabulkan permintaan. Namun, setiap permintaan yang berhasil dibayar dengan nyawa, sehingga apa yang semula tampak seperti solusi praktis justru menjadi ancaman yang terus membayangi para tokohnya.
Salah satu contoh paling jelas terlihat pada Choi Hyeong Wook. Ia memilih meminta nilai matematikanya naik lewat video permohonan, tanpa mencoba belajar terlebih dahulu, dan permintaan itu memang terkabul.
Dari situ, drama ini menegaskan bahwa keinginan instan tidak pernah berdiri sendiri. Satu tindakan yang terlihat sepele bisa menyeret karakter lain ke dalam rangkaian peristiwa yang sama-sama berbahaya.
Konsekuensi paling gelap muncul ketika Choi Hyeong Wook kemudian tewas di sekolah seolah bunuh diri. Tubuhnya digambarkan sudah tidak berada dalam kendalinya karena dikuasai makhluk halus, dan momen itu menjadi salah satu titik paling mencekam dalam cerita.
Di sisi lain, hubungan antarpelajar juga ikut retak karena tekanan yang muncul dari permintaan dan rahasia yang mereka simpan. Lim Na Ri sempat menjelek-jelekkan Choi Hyeong Wook dan bahkan berharap laki-laki itu mati, lalu menyesal setelah permohonan yang dibuat berubah menjadi ancaman nyata.
Namun rasa bersalah tidak langsung membawa keadaan menjadi lebih baik. Lim Na Ri justru memilih menutup-nutupi apa yang terjadi, lalu tenggelam dalam marah dan kebencian yang ia simpan sendiri.
Latar konflik ini berakar dari hubungan lama yang sudah rusak. Dua murid yang pernah bersahabat di SMA Seorin berubah menjadi musuh karena kesalahpahaman, lalu salah satunya nekat memakai ilmu perdukunan untuk menciptakan kutukan.
Di tengah nuansa horor itu, drama ini juga menampilkan jalinan cinta remaja yang semakin memperkeruh hubungan pertemanan. Yoo Se Ah dan Kim Geon Woo diam-diam saling menyukai dan berpacaran tanpa memberi tahu teman-temannya.
Situasi semakin rumit karena Lim Na Ri terang-terangan menyukai Kim Geon Woo, sementara Kang Ha Joon memendam perasaan untuk Yoo Se Ah. Lingkar perasaan yang tak diucapkan ini membuat kepercayaan mudah goyah dan salah paham lebih cepat menyebar.
Luka yang tidak terlihat dari luar
Yoo Se Ah menjadi contoh paling jelas bahwa tampilan ceria tidak selalu mencerminkan keadaan sebenarnya. Di depan teman-temannya, ia terlihat aktif dan mudah bergaul, tetapi ia menyimpan trauma berat atas kematian orang tuanya ketika masih kecil.
Kondisi rumahnya juga tidak banyak membantu. Bibinya jarang berada di rumah karena sibuk bekerja, sehingga sisi emosional Yoo Se Ah tetap rapuh meski ia berada di tengah lingkar pertemanan.
Dari rangkaian itu, If Wishes Could Kill tidak hanya mengandalkan elemen fantasi gelap untuk membangun ketegangan. Serial ini juga memperlihatkan budaya serba instan, kesepian yang tersembunyi, dan rapuhnya hubungan remaja ketika tekanan, rasa suka, dan rahasia bertemu dalam satu ruang yang sama.
Source: www.idntimes.com