Andes Virus Dan Seoul Virus Sama-Sama Hantavirus, Penularan Dan Risikonya Ternyata Berbeda Jauh

Perbedaan antara Andes virus dan Seoul virus kembali menjadi perhatian setelah wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menimbulkan korban jiwa dan menyebar lintas negara. Meski sama-sama termasuk hantavirus, keduanya punya pola penularan dan dampak kesehatan yang tidak sama.

Kasus di kapal berbendera Belanda itu membuat pertanyaan soal jenis hantavirus menjadi penting, terutama karena Indonesia juga mencatat 23 kasus hantavirus sejak 2024 dengan tiga kematian. Di tengah situasi tersebut, memahami perbedaan kedua virus ini membantu menempatkan risiko secara lebih tepat.

WHO menerima laporan klaster penyakit pernapasan akut berat di antara penumpang MV Hondius pada Sabtu (2/5/2026). Saat itu, kapal membawa 147 penumpang dan awak, sementara 34 orang lain sudah turun di berbagai pelabuhan sebelum wabah terdeteksi.

Pada Rabu (6/5/2026), WHO mengonfirmasi bahwa wabah tersebut disebabkan oleh Andes virus. Hingga Sabtu (9/5/2026), WHO melaporkan delapan kasus yang dicurigai, enam di antaranya terkonfirmasi, dengan tiga kematian, dan dua korban meninggal telah dipastikan terinfeksi Andes virus.

Sebaran kasus itu juga tidak terbatas pada satu wilayah. Pasien tersebar di enam negara, termasuk Afrika Selatan, Swiss, Jerman, dan Belanda, sehingga penelusuran kontak menjadi lebih kompleks.

CDC menetapkan wabah tersebut sebagai respons darurat tingkat tiga, yaitu level kesiagaan tertinggi dalam sistem mereka. Penetapan ini menunjukkan bahwa Andes virus dipandang sebagai ancaman yang perlu penanganan cepat dan terkoordinasi.

Andes virus mendapat perhatian khusus karena menjadi satu-satunya hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia, meski kasus seperti ini jarang. CDC menjelaskan penularannya biasanya terjadi lewat kontak dekat dan berlangsung lama, misalnya berciuman, berbagi peralatan makan, atau terkena cairan tubuh penderita.

Virus ini menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome atau HPS. WHO menyebut gangguan itu menyerang sistem pernapasan dan dapat berujung fatal.

Gejala awal infeksi Andes virus dapat berupa demam, nyeri otot terutama di paha, pinggul, dan punggung, lemas, serta gangguan pencernaan. Dalam beberapa hari, kondisi dapat memburuk cepat menjadi sesak napas berat, gagal napas, hingga syok.

Pada kasus gangguan pernapasan berat akibat Andes virus, angka kematian dilaporkan mencapai sekitar 38%. Karena itu, penanganan dini menjadi sangat penting ketika gejala mulai muncul.

Berbeda dengan Andes virus, hantavirus yang lebih banyak ditemukan di Indonesia adalah Seoul virus. Virus ini tersebar luas di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia, dan dibawa oleh tikus cokelat atau tikus Norway (Rattus norvegicus) serta tikus hitam (Rattus rattus).

Kedua jenis tikus tersebut hidup sangat dekat dengan permukiman manusia. Akibatnya, paparan lebih sering terjadi di lingkungan rumah atau area yang kotor oleh kotoran tikus.

Seoul virus tidak diketahui menular dari manusia ke manusia. Penularannya terjadi melalui kontak dengan urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi, termasuk saat debu yang terkontaminasi terhirup ketika seseorang membersihkan area yang terdapat kotoran tikus.

Penyakit yang ditimbulkan Seoul virus juga berbeda dari Andes virus. Virus ini menyebabkan hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS, yakni demam berdarah dengan sindrom ginjal.

Gejala infeksi Seoul virus dapat berupa demam, sakit kepala, bintik-bintik pada kulit, dan gangguan ginjal. Gangguan ginjal itu bisa muncul sebagai pembengkakan ginjal, meningkatnya protein dalam urine, darah dalam urine, hingga berkurangnya produksi urine.

Pada kasus berat, infeksi Seoul virus dapat menyebabkan gagal ginjal. Meski begitu, tingkat kematiannya jauh lebih rendah dibandingkan Andes virus, dengan fatalitas diperkirakan sekitar 1% hingga 2%.

Hingga kini, baik Andes virus maupun Seoul virus belum memiliki vaksin atau obat antivirus yang disetujui secara luas. Karena itu, penanganan umumnya bersifat suportif, termasuk istirahat, menjaga asupan cairan, dan meredakan gejala sedini mungkin.

Untuk HPS berat akibat Andes virus, prosedur extra-corporeal membrane oxygenation atau ECMO disebut dapat meningkatkan peluang bertahan hidup hingga sekitar 80% jika dilakukan lebih awal. Sementara pada infeksi Seoul virus, obat antivirus Ribavirin disebut dapat membantu menurunkan tingkat keparahan penyakit dan risiko kematian bila diberikan sejak awal infeksi.

Perbedaan inilah yang membuat wabah di MV Hondius tidak bisa disamakan dengan kasus hantavirus yang tercatat di Indonesia. Meski berasal dari keluarga yang sama, Andes virus dan Seoul virus memiliki pola penularan, organ yang terdampak, dan risiko klinis yang berbeda.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button