Ancaman Konflik Iran Menekan Ambisi Data Center AI Timur Tengah, Investor Mulai Menunda Langkah

Kekhawatiran terbesar investor di Timur Tengah kini bukan lagi soal ketersediaan lahan atau listrik murah, melainkan seberapa aman fasilitas digital mereka jika konflik terus meluas. Situasi ini membuat rencana besar pembangunan data center AI di kawasan tersebut ikut melambat, meski sebelumnya pasar ini dipandang sangat menjanjikan.

Timur Tengah sempat dilihat sebagai lokasi ideal untuk menopang ekspansi kecerdasan buatan karena biaya listrik dan lahan relatif rendah. Kombinasi itu menarik banyak perusahaan global yang membutuhkan kapasitas komputasi besar untuk layanan AI, tetapi perang Iran mengubah hitung-hitungan bisnis secara cepat.

Risiko keamanan mengubah arah investasi

Gelombang investasi yang sebelumnya mengalir deras kini mulai tertahan. Sejumlah proyek ditunda karena pelaku industri menilai risiko keamanan dan gangguan operasional sudah terlalu tinggi untuk diabaikan.

Salah satu perusahaan data center besar bahkan dilaporkan menunda investasi infrastruktur AI dan data center di kawasan itu. Alasan utamanya sederhana, yaitu perang Iran masih berlangsung dan situasi belum stabil.

Penundaan tersebut tidak berhenti pada soal jadwal pembangunan. Tekanan geopolitik ikut memicu kekhawatiran atas rantai pasok komponen penting, termasuk perangkat keras bernilai tinggi yang dibutuhkan untuk menjalankan sistem AI.

Harga minyak yang ikut naik di tengah konflik juga menambah beban biaya. Dalam kondisi seperti ini, proyek digital berskala besar menjadi lebih sulit dijalankan karena biaya operasional dan tingkat risikonya sama-sama meningkat.

Insiden di Abu Dhabi jadi peringatan nyata

Kekhawatiran investor makin besar setelah ada insiden yang menyentuh langsung aset fisik. Di Abu Dhabi, data center yang dioperasikan Pure DC milik Oaktree dilaporkan terkena pecahan peluru dari serangan Iran.

Peristiwa itu menegaskan bahwa data center bukan sekadar fasilitas teknologi biasa. Di tengah konflik bersenjata, bangunan yang menjadi tulang punggung layanan digital juga bisa ikut menjadi target atau terdampak secara fisik.

CEO Pure DC, Gary Wojtaszek, mengatakan kepada CNBC International bahwa investasi akan ditangguhkan untuk semua data center. Ia menegaskan, “Tidak ada yang mau membangun data center dan menyematkan GPU baru hingga kondisi ini berakhir.”

Ia juga menambahkan, “Tidak ada yang ingin menjalankan bangunan kebakaran.” Kalimat itu menggambarkan betapa besar kehati-hatian pelaku industri saat ancaman tidak hanya datang dari pasar, tetapi juga dari situasi keamanan di lapangan.

Minat masih ada, tetapi langkahnya jauh lebih hati-hati

Meski laju investasi melambat, kawasan ini belum kehilangan daya tarik sepenuhnya. Pure DC masih melihat peluang jangka panjang di Timur Tengah, dan pembicaraan serta perencanaan proyek disebut tetap berjalan.

Perusahaan itu juga sebelumnya memiliki rencana ekspansi ke Riyadh, Arab Saudi. Hal tersebut menunjukkan bahwa pasar Timur Tengah masih dianggap relevan, meski keputusan investasi kini jauh lebih bergantung pada stabilitas geopolitik.

Faktor yang membuat kawasan ini dulu begitu menarik tetap ada, yaitu kebutuhan besar untuk infrastruktur data center AI. Namun dorongan bisnis itu kini berhadapan langsung dengan ketidakpastian keamanan yang membuat banyak pihak menahan langkah.

Dampak merembet ke layanan digital

Gangguan konflik tidak hanya memengaruhi rencana pembangunan fasilitas baru, tetapi juga bisa mengganggu layanan digital yang sudah berjalan. Ketika infrastruktur teknologi terkena dampak, efeknya dapat terasa sampai ke pengguna akhir.

Pada Maret 2026, fasilitas AWS di Uni Emirat Arab dan Bahrain disebut dihantam drone Iran dan memicu gangguan pada layanan perbankan, pembayaran, perusahaan, serta konsumen. Peristiwa itu memperlihatkan bahwa risiko konflik dapat merembet jauh ke aktivitas digital sehari-hari.

Wojtaszek menilai lingkungan politik makro memang memperlambat investasi sektor ini, tetapi permintaan digital tetap tidak berubah. Ia juga menyebut visi nasional negara-negara di kawasan itu masih mendukung transformasi melalui pemerintahan digital, modernisasi perusahaan, dan tenaga kerja yang siap menghadapi masa depan.

Itulah sebabnya Timur Tengah masih terus dipantau oleh industri data center. Namun selama perang Iran menekan aset fisik, rantai pasok, dan rasa aman investor, “harta karun” AI yang semula diburu banyak pihak itu tetap sulit bergerak secepat yang diharapkan.

Source: www.cnbcindonesia.com

Baca Juga

Back to top button