Ancaman Gizi Anak Dari Kekeringan El Nino Godzilla, Stunting Diperkirakan Bisa Naik 25 Persen

Kekeringan yang dipicu El Nino “Godzilla” bukan hanya persoalan cuaca ekstrem. Dampaknya dapat merembet ke dapur rumah tangga, lalu berujung pada ancaman gizi anak yang lebih serius dari sekadar kesulitan mencari bahan makanan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia menilai gangguan pasokan pangan akibat musim kemarau yang panjang bisa menaikkan risiko malnutrisi dan stunting. Saat hasil panen terganggu dan harga bahan makanan ikut naik, keluarga berpenghasilan terbatas akan semakin sulit memenuhi kebutuhan gizi harian anak.

Rantai dampak dari lahan ke tubuh anak

Ketua Satuan Tugas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, dr Darmawan Budi Setyanto, menyoroti bahwa kekeringan dapat memicu masalah berlapis. Gagal panen membuat pasokan pangan tidak stabil, lalu kondisi itu mendorong kenaikan harga dan mempersempit akses keluarga terhadap makanan bergizi.

Dalam situasi seperti ini, anak menjadi kelompok yang paling rawan terdampak. Sistem kekebalan tubuh mereka belum sempurna, sementara kemampuan mengatur suhu tubuh juga belum sekuat orang dewasa, sehingga risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan lain ikut meningkat.

Ancaman stunting ikut membesar

Dr Darmawan menyebut prevalensi stunting pada 2022 berdasarkan Riset Kesehatan Dasar mencapai 21,6 persen. Ia menambahkan, angka itu dapat bertambah 15-25 persen bila dampak El Nino tidak dikendalikan dengan baik.

Menurutnya, persoalan kekeringan tidak berhenti pada berkurangnya makanan. Ketika akses pangan bergizi menurun dalam jangka panjang, gangguan ketahanan pangan dapat berubah menjadi malnutrisi kronik yang memengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak.

Dampaknya juga tidak sesederhana tinggi badan yang tertahan. Saat asupan gizi keluarga tidak tercukupi, kualitas tumbuh kembang dan kemampuan intelektualitas anak ikut tertekan.

Penyakit lain turut mengintai

Selain memukul asupan gizi, El Nino juga berpotensi memicu lonjakan penyakit pada anak. Dr Darmawan menyebut diare, pneumonia, demam berdarah dengue atau DBD, hingga malaria dapat ikut meningkat dalam kondisi kekeringan dan perubahan lingkungan yang tidak stabil.

Kekeringan yang berkepanjangan dapat menurunkan kualitas sanitasi dan mencemari sumber air bersih. Kondisi ini memperbesar ancaman penyakit yang ditularkan melalui air, terutama pada balita yang lebih rentan terhadap infeksi dan dehidrasi.

Ia juga menegaskan bahwa diare dan pneumonia masih menjadi dua penyebab utama kematian pada balita di Indonesia, seperti halnya di banyak negara berkembang lainnya. Karena itu, lonjakan penyakit saat El Nino perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang serius.

Mitigasi harus bergerak lebih cepat

Di tengah ancaman yang saling terkait, penguatan mitigasi menjadi penting agar kekeringan tidak berkembang menjadi krisis gizi dan kesehatan yang lebih luas. Pemerintah dinilai perlu memperkuat layanan kesehatan, ketahanan pangan, akses air bersih, dan sistem kesiapsiagaan.

Respons cepat terhadap potensi lonjakan kasus penyakit di fasilitas kesehatan juga perlu dipersiapkan. Dengan iklim yang dapat mengganggu banyak aspek kehidupan sekaligus, perlindungan terhadap anak harus tetap menjadi prioritas utama.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version