Analis Tetap Menopang BBCA Saat Harga Di Area Rp6.000, Target Tertinggi Masih Rp10.900

Di tengah tekanan harga yang masih menempel di saham BBCA, pasar justru belum sepenuhnya mematahkan ekspektasi jangka panjang terhadap emiten bank besar ini. Konsensus analis masih menempatkan target harga rata-rata di Rp8.912 per saham, jauh di atas posisi BBCA yang terakhir berada di Rp6.100.

Rentang proyeksi itu menunjukkan bahwa pelemahan di pasar belum otomatis mengubah pandangan mayoritas analis. Dari 37 analis yang tercatat, 35 memberikan rekomendasi buy, dua analis memilih hold, dan tidak ada yang memberi sell.

Target tertinggi dalam konsensus tersebut mencapai Rp10.900, sedangkan target terendah ada di Rp5.500. Dengan posisi terakhir di Rp6.100, ruang kenaikan menuju target rata-rata masih sekitar 46 persen.

Tekanan jual asing belum mereda

Meski optimisme analis masih kuat, pergerakan saham BBCA di bursa justru masih dibayangi arus keluar dana asing. Pada perdagangan 13 Mei 2026, investor asing mencatat net foreign sell sebesar Rp91,76 miliar ketika nilai transaksi mencapai Rp898,1 miliar dengan volume 1,47 juta lot.

Pola serupa juga terlihat pada hari-hari sebelumnya. Pada 8 Mei 2026, net foreign sell tercatat Rp34,71 miliar saat saham ditutup di Rp6.175, sedangkan sehari sebelumnya arus keluar asing lebih besar, yakni Rp83,12 miliar ketika harga berada di Rp6.225.

Tekanan itu bahkan sempat melonjak tajam pada 30 April 2026. Saat itu, BBCA membukukan net foreign sell hingga Rp690,95 miliar dengan nilai transaksi Rp1,78 triliun, sementara saham ditutup di Rp5.850.

Harga masih bergerak di area 6.000

Dari sisi pergerakan harian, BBCA masih menunjukkan volatilitas yang cukup lebar. Pada 13 Mei, saham sempat bergerak di rentang Rp6.025 hingga Rp6.200 sebelum akhirnya ditutup di Rp6.100.

Pada hari yang sama, frekuensi transaksi tercatat 26.545 kali dengan rata-rata harga perdagangan di Rp6.095. Aktivitas itu menandakan saham masih aktif diperdagangkan, meski tekanan jual belum hilang dari pasar.

Dalam tiga bulan terakhir, harga BBCA juga turun bertahap dari area 7.000 dan kini bertahan di kisaran 6.000. Kondisi ini sejalan dengan pelemahan yang masih terasa dalam setahun terakhir.

Secara tahunan, saham bank berkapitalisasi jumbo ini tercatat terkoreksi 32,22 persen. Dari awal 2026, BBCA juga melemah 24,46 persen atau 1.975 poin setelah sempat berada di area 8.000.

Fundamental masih jadi penopang pandangan pasar

Di tengah pelemahan harga, manajemen BBCA sebelumnya menyampaikan bahwa fundamental bisnis perusahaan tetap berjalan normal. Hingga kini belum ada pernyataan resmi terbaru dari perseroan terkait pergerakan harga saham di pasar reguler.

Sikap pasar terhadap BBCA pun belum sepenuhnya berubah negatif. Dengan posisi bisnis yang besar dan struktur kepemilikan yang kuat, saham ini masih berada dalam radar investor.

Dari sisi kepemilikan, PT Dwimuria Investama Andalan masih menjadi pemegang saham utama dengan porsi 54,94 persen atau sekitar 67,72 miliar saham. Porsi publik nonwarkat tercatat 42,15 persen dan free float berada di level 42,45 persen.

Investor asing institusi juga masih tercatat dalam daftar pemegang saham utama. Government of Norway menggenggam sekitar 1,03 persen saham BBCA atau setara 1,26 miliar saham per 8 Mei 2026.

Dengan harga yang masih tertahan di area 6.000 dan arus jual asing yang belum sepenuhnya berhenti, pasar kini menanti apakah BBCA mampu keluar dari tekanan yang sudah berlangsung sejak awal tahun. Namun di sisi lain, konsensus analis masih melihat saham bank milik Grup Djarum itu punya ruang pemulihan yang cukup besar dibanding posisi terkini.

Source: www.kabarbursa.com
Exit mobile version