Bagi Jorge Jesus, trofi terbaru bersama Al Nassr menambah bobot besar dalam perjalanan panjangnya sebagai pelatih. Gelar itu bukan hanya membuat koleksinya naik menjadi 24, tetapi juga menegaskan kembali reputasinya sebagai sosok yang kerap membawa klub ke level juara.
Al Nassr menutup musim dengan kemenangan 4-1 atas Damac pada jornada ke-34 Liga Saudi. Hasil tersebut langsung memastikan akhir dari penantian hampir satu dekade tanpa gelar liga bagi klub yang terakhir kali menjadi juara pada musim 2018/19.
Capaian ini terasa semakin penting karena diraih bersama skuad yang diperkuat Cristiano Ronaldo dan João Félix. Dengan materi pemain seperti itu, tekanan untuk menutup musim dengan gelar memang besar, dan Al Nassr mampu menjawabnya di bawah arahan Jesus.
Bagi Jesus sendiri, gelar ini menjadi trofi keenamnya di Arab Saudi. Angka itu menambah daftar panjang pencapaiannya di kawasan tersebut, terutama setelah sebelumnya ia juga sukses bersama Al Hilal.
Periode terbarunya di Al Hilal pada 2023/24 hingga 2024/25 tercatat sebagai salah satu fase paling produktif dalam kariernya di Timur Tengah. Dalam rentang itu, pelatih berusia 71 tahun tersebut meraih gelar Saudi untuk pertama kalinya, lalu menambah Piala Raja dan dua trofi Piala Super.
Jejak sukses Jesus di Arab Saudi sebenarnya sudah dimulai lebih awal ketika ia pertama kali menangani Al Hilal. Pada 2018, ia juga mempersembahkan Piala Super, yang kemudian menjadi bagian dari portofolio trofinya di negara tersebut.
Rekam jejak itu ikut memperkuat citranya sebagai pelatih yang mampu mengubah tim besar menjadi juara. Nama Jesus kerap dikaitkan dengan kemampuan memberi dampak cepat, sesuatu yang juga terlihat dari berbagai klub yang pernah ia tangani di luar Portugal.
Kariernya dimulai pada 1989/90 bersama Amora, tetapi trofi pertamanya baru hadir pada 2008 saat melatih Sporting de Braga. Saat itu, ia membawa klub tersebut menjuarai edisi terakhir Piala Intertoto.
Nama Jesus kemudian semakin besar saat memimpin Benfica. Dalam enam musim di sana, ia mempersembahkan tiga gelar I Liga, satu Piala Portugal, lima Piala Liga, dan satu Supertaça, serta dua kali mengantar Benfica ke final Liga Europa.
Setelah Benfica, Jesus sempat menukangi Sporting selama tiga musim. Hasilnya tidak semoncer periode lain, meski ia tetap meraih satu Supertaça dan satu Piala Liga selama berada di klub itu.
Salah satu puncak kariernya datang bersama Flamengo pada 2019. Ia membawa klub Brasil itu menjuarai Copa Libertadores, gelar kedua dalam sejarah klub dan yang pertama sejak 1981.
Di Brasil, Jesus juga menambah Brasileirão, Piala Super Amerika Selatan, dan Piala Super Brasil. Rangkaian prestasi itu membuat namanya makin kuat sebagai pelatih yang bisa langsung memberi hasil saat datang ke tim baru.
Setelah kembali ke Benfica, hasilnya tidak sebaik periode pertamanya karena ia pulang tanpa trofi dan pergi pada pertengahan musim keduanya. Ia lalu melanjutkan karier ke Fenerbahçe dan menutup musim 2022/23 dengan trofi Piala Turki, sebelum kembali lagi ke Arab Saudi.
Kini, trofi bersama Al Nassr menjadi penanda terbaru dari perjalanan panjang tersebut. Bagi Jesus, koleksi yang terus bertambah itu semakin mendekatkannya pada status salah satu pelatih Portugal paling sukses di luar negeri.
Source: sapo.pt




