Al Ittihad Menjaga Jalur Elite, Al Shabab Masih Tertekan oleh Angka Musim Ini

Al Ittihad dan Al Shabab sama-sama membawa nama besar, tetapi musim ini memperlihatkan arah yang sangat berbeda. Satu tim masih berada dalam persaingan papan atas, sedangkan yang lain justru tertahan di area bawah klasemen.

Al Ittihad tampil dengan posisi yang jauh lebih kuat karena menempati peringkat kelima dengan 55 poin dari 32 laga. Di sisi lain, Al Shabab hanya ada di posisi ke-13 dengan 32 poin dari jumlah pertandingan yang sama.

Jarak itu tidak muncul begitu saja. Al Ittihad sudah mengumpulkan 16 kemenangan, tujuh hasil imbang, dan sembilan kekalahan, sementara Al Shabab baru meraih tujuh kemenangan, 11 kali seri, dan 14 kali kalah.

Perbedaan yang terlihat dari produktivitas

Dari urusan mencetak gol, Al Ittihad juga lebih meyakinkan. Mereka sudah membuat 52 gol dan kebobolan 40 gol, sedangkan Al Shabab mencatat 41 gol tetapi harus menerima 54 gol ke gawangnya.

Angka tersebut langsung memperlihatkan selisih gol yang berbeda jauh. Al Ittihad punya surplus +12, sedangkan Al Shabab berada di angka -13.

Kondisi itu membuat karakter musim keduanya semakin kontras. Al Ittihad masih sanggup menjaga keseimbangan antara menyerang dan bertahan, sementara Al Shabab kesulitan di dua sisi sekaligus.

Tekanan yang datang dari arah berbeda

Bagi Al Ittihad, tantangan utama datang dari rapatnya persaingan di papan atas. Al Nassr memimpin klasemen dengan 83 poin, diikuti Al Hilal dengan 81 poin dan Al Ahli dengan 78 poin.

Al Ittihad sendiri hanya unggul satu angka dari Al Ahli dalam perebutan posisi elite. Mereka memang masih punya jarak yang cukup lebar dari Al Qadsiah yang mengoleksi 74 poin, tetapi posisi mereka tetap belum aman.

Situasi Al Shabab justru lebih rumit karena setiap poin terasa penting untuk menjauh dari tekanan kelompok bawah. Nama-nama seperti Al Kholood dan Damac masih ikut memburu perbaikan posisi, sehingga ruang gerak Al Shabab tidak banyak.

Mengapa duel ini terasa timpang di atas kertas

Pertemuan dua klub besar ini tetap menarik, tetapi data musim ini menunjukkan fondasi yang berbeda. Al Ittihad lebih efisien saat memanfaatkan peluang, sedangkan Al Shabab lebih sering kehilangan poin meski kerap mampu menahan lawan.

Catatan kebobolan juga memberi sinyal yang jelas tentang kekuatan masing-masing tim. Al Ittihad masih berada pada level pertahanan yang relatif baik untuk tim papan atas, sedangkan 54 gol kebobolan milik Al Shabab menunjukkan masalah yang terus berulang.

Masalah Al Shabab tidak berhenti pada pertahanan. Mereka juga belum cukup konsisten dalam menghasilkan gol, sehingga hasil seri dan kekalahan lebih sering menahan laju mereka sepanjang musim.

Al Ittihad, sebaliknya, masih punya modal yang membuat mereka tetap berada di jalur persaingan. Dengan 52 gol dan surplus gol positif, mereka terlihat lebih stabil untuk menjaga posisi di papan atas.

Dari seluruh angka yang ada, perbedaan antara kedua tim memang terasa tegas. Al Ittihad membawa beban mempertahankan konsistensi di zona elite, sementara Al Shabab masih harus mencari cara agar musimnya tidak terus tertahan di papan bawah.

Source: www.bbc.com

Baca Juga

Back to top button