Pergerakan Bitcoin kembali menunjukkan betapa cepatnya pasar kripto berubah arah ketika tekanan jual meningkat. Dalam beberapa sesi terakhir, hampir US$4 miliar taruhan bullish lenyap saat harga aset digital terbesar itu jatuh ke US$61.322.
Pelemahan tersebut tidak hanya menggerus posisi para trader, tetapi juga memperlebar jarak kinerja Bitcoin dari saham teknologi yang justru mencetak rekor baru. Kontras ini menegaskan bahwa sentimen terhadap aset berisiko di pasar kripto sedang jauh lebih rapuh dibanding pasar saham.
Tekanan terbesar datang dari posisi naik
Data CoinGlass menunjukkan posisi yang paling terpukul berasal dari taruhan pada kenaikan harga. Hampir US$4 miliar posisi bullish hilang sejak awal pekan, dengan Bitcoin menjadi aset yang paling banyak terseret dalam gelombang likuidasi itu.
Kondisi ini menandai betapa cepatnya pasar merespons arus keluar dana dan aksi jual yang saling memperkuat. Saat likuidasi membesar, kepercayaan investor ikut melemah dan ruang untuk pemulihan harga menjadi semakin sempit.
Bitcoin bahkan sempat mendekati area terendah empat bulan di kisaran US$60.000 pada awal Februari. Penurunan ke US$61.322 juga memutus rangkaian penurunan harian selama enam hari berturut-turut, yang merupakan tren terpanjang sejak Agustus tahun lalu.
Arus keluar dana dan aksi korporasi ikut menekan pasar
Tekanan di pasar kripto tidak berdiri sendiri. Dalam 13 sesi terakhir, ETF spot Bitcoin di AS mencatat arus keluar dana sebesar US$4,4 miliar, sementara Strategy Inc. juga melakukan penjualan perdana Bitcoin sejak 2022.
Kombinasi dua faktor itu menambah tekanan pada pasar yang sudah sensitif. Di tengah situasi tersebut, perpindahan modal ritel turut mempercepat pelemahan dan membuat sentimen aset digital semakin rentan.
Geoffrey Kendrick, kepala riset aset digital Standard Chartered Plc, menilai kondisi pekan ini sangat menyakitkan bagi pasar kripto. Ia juga menyoroti langkah Strategy Inc. yang melepas 32 Bitcoin pekan ini, meski jumlah itu kecil dibanding cadangan perusahaan yang bernilai US$53 miliar.
Ether ikut kehilangan tenaga
Pelemahan tidak berhenti pada Bitcoin. Ether, aset kripto terbesar kedua, turun ke level terendah sejak April 2025 dan diperdagangkan di sekitar US$1.780 pada pukul 08.40 pagi hari Kamis waktu AS.
Pergerakan Ether menunjukkan bahwa tekanan jual berlangsung luas di seluruh pasar digital. Saat likuiditas menyusut, aset berisiko lain di ekosistem kripto juga ikut kehilangan daya tahan.
Minat ritel bergeser ke aset lain
Di sisi lain, perilaku investor ritel juga berubah arah. Minat mereka kini lebih banyak mengalir ke kecerdasan buatan atau AI, opsi berjangka pendek, pasar prediksi, dan stablecoin.
Stephane Ouellette, CEO sekaligus salah satu pendiri FRNT Financial Inc., mengatakan banyak trader ritel yang berharap bisa membeli IPO SpaceX atau IPO AI berikutnya memiliki profil yang mirip dengan pemegang BTC. Menurutnya, sebagian pelemahan ekstrem pada Bitcoin saat ini terjadi karena investor berusaha mengumpulkan dana tunai untuk membiayai peluang tersebut, terutama menjelang IPO SpaceX minggu depan.
Perpindahan minat itu ikut menggerus likuiditas Bitcoin. Dengan harga yang sudah kehilangan separuh nilainya dari rekor tertinggi US$126.000 pada Oktober lalu, pasar kripto kini masih berada dalam fase yang sangat rapuh.