Dua pria ditangkap polisi setelah seorang turis wanita asal Amerika Serikat melaporkan dugaan pelecehan seksual yang terjadi di sebuah homestay di distrik Kodagu, Karnataka selatan, India. Kasus ini muncul setelah korban berhasil meninggalkan lokasi dan menghubungi Kedutaan Besar AS di Delhi untuk meminta bantuan.
Dari laporan yang diteruskan jalur diplomatik itu, otoritas setempat mulai menindaklanjuti dugaan tindak pidana yang disebut terjadi di desa Kutta, kawasan perbukitan di barat daya Karnataka. Kepolisian menyebut proses penyidikan terus berjalan dan pengaduan resmi telah didaftarkan berdasarkan pasal-pasal hukum yang relevan.
Korban dilaporkan menginap di homestay tersebut selama hampir tiga hari. Menurut keterangan polisi, ia sempat memberi tahu penghuni properti bahwa dirinya akan melanjutkan perjalanan ke wilayah lain di negara bagian itu sebelum akhirnya berhasil pergi dari tempat tersebut.
Dalam laporan yang diterima aparat, korban menuduh pemilik homestay memberinya minuman yang telah dicampur obat. Setelah diduga kehilangan kesadaran, korban disebut mengalami pelecehan seksual oleh seorang pekerja di properti itu.
Korban juga menyampaikan bahwa pemilik homestay tidak membantunya menghubungi aparat. Ia bahkan diduga dicegah untuk mencari pertolongan, sementara akses komunikasi di properti tersebut disebut ikut terganggu.
Polisi mengonfirmasi bahwa dua orang yang ditetapkan sebagai tersangka telah diamankan, yakni pemilik properti dan seorang anggota staf. Kedua pria itu disebut akan tetap ditahan hingga 3 Mei sambil menunggu proses lanjutan.
Dalam penyidikan, aparat telah menjalankan pemeriksaan forensik, pemeriksaan medis, dan prosedur lain yang dibutuhkan untuk memperkuat penanganan perkara. Langkah ini dilakukan untuk menelusuri kronologi kejadian sekaligus memastikan seluruh bukti yang tersedia dapat diuji secara hukum.
Kasus ini juga memperlihatkan bagaimana jalur diplomatik bisa menjadi pintu awal bagi korban yang kesulitan meminta bantuan secara langsung. Setelah meninggalkan homestay, korban memilih menghubungi perwakilan negaranya di Delhi, dan dari sanalah laporan diteruskan kepada pihak berwenang di India.
Perkara di Kodagu kembali menyoroti masalah kekerasan seksual di India. Mengacu pada data resmi yang disebut dalam laporan, polisi mencatat 31.516 kasus pemerkosaan pada 2022, naik 20 persen dari 2021, atau hampir 90 kasus setiap hari.
Data yang sama menunjukkan bahwa satu perempuan diperkosa setiap 18 menit, meski angka sebenarnya diyakini lebih tinggi karena banyak kasus tidak dilaporkan. Stigma, rasa takut, dan hambatan akses bantuan masih membuat banyak korban sulit menyampaikan laporan secara terbuka.
Source: www.viva.co.id




