Aki Bekas Bukan Untuk Tong Sampah, Satu Baterai Bisa Memicu Kebakaran Truk Sampah Dalam Menit

Petugas kebersihan dan armada pengangkut sampah ternyata sedang menghadapi ancaman yang sering tidak disadari: baterai bekas yang masuk ke alur pembuangan biasa. Saat aki mobil atau baterai lithium-ion ikut tertekan di dalam truk sampah, risikonya bukan cuma kerusakan kendaraan, tetapi juga kebakaran yang bisa muncul sangat cepat.

Bahaya ini muncul karena truk sampah memakai compactor hidrolik untuk memadatkan isi muatan dengan tekanan besar. Ketika casing baterai retak atau pecah, isi dan reaksi kimianya dapat berubah menjadi sumber api, gas beracun, dan gangguan serius bagi petugas di lapangan.

Pada aki timbal-asam yang umum dipakai mobil berbahan bakar bensin, isi di dalamnya mencakup sulfuric acid yang bersifat toksik dan korosif. Sementara itu, baterai lithium-ion membawa risiko yang lebih berat jika selnya rusak, karena dapat memicu thermal runaway, yaitu reaksi berantai yang menghasilkan panas tinggi dan api yang sulit dipadamkan.

Dalam sepekan, ada tiga insiden terpisah yang memperlihatkan ancaman tersebut secara nyata. Salah satunya terjadi di Rio Bravo, Texas, ketika sebuah truk sampah kota mengalami kerusakan besar setelah pekerja mengosongkan kontainer berisi baterai mobil ke dalam kendaraan.

Kerusakan itu cukup parah sampai kota harus mendatangkan mekanik khusus. Otoritas setempat juga memberi peringatan bahwa kejadian serupa dapat mengganggu jadwal pengangkutan sampah.

Di Roseville, California, pejabat setempat bahkan merilis video yang memperlihatkan baterai lithium-ion menyala di bagian belakang truk sampah. Rekaman itu dipakai untuk mengingatkan warga agar tidak menaruh baterai di tempat sampah tepi jalan.

Penjelasan dari pejabat pemadam kebakaran Sacramento membuat ancaman ini semakin jelas. Begitu baterai lithium-ion pecah di dalam compactor, api dapat menyebar sangat cepat dan keras, sementara gas beracun juga bisa terlepas dan membahayakan petugas maupun warga sekitar.

Pada hari yang sama, dinas pemadam kebakaran di Troy, Michigan, melaporkan kebakaran truk sampah lain yang juga dikaitkan dengan baterai lithium-ion. Sopir memilih membuang isi truk ke jalan agar api tidak menghabiskan kendaraan, lalu petugas menemukan baterai lithium-ion di antara puing-puing yang diduga menjadi sumber masalah.

Kejadian seperti ini bukan hal baru. New York City menghadapi gelombang insiden serupa pada 2024, saat pejabat lokal dan dinas pemadam berupaya mengatasi semakin banyaknya baterai yang dibuang sembarangan seiring naiknya penggunaan kendaraan listrik dan perangkat berbasis lithium.

Walau peringatan pada baterai sudah tersedia, kepatuhan masyarakat masih rendah. Akibatnya, truk sampah terus menjadi pihak yang menanggung risiko paling besar ketika baterai masuk ke jalur pembuangan yang salah.

Padahal, jalur pembuangan aman sudah tersedia di banyak wilayah. Toko suku cadang mobil, pusat daur ulang, dan fasilitas limbah berbahaya rumah tangga menerima baterai bekas, dan banyak toko suku cadang mobil nasional juga mengambil baterai lama tanpa biaya.

Dalam banyak kasus, konsumen bahkan bisa mendapat core charge credit saat membeli baterai baru. Program limbah berbahaya rumah tangga dari pemerintah daerah juga kerap menerima baterai, dan sejumlah kota mengadakan acara drop-off berkala untuk memudahkan warga.

Jika aki bekas masih disimpan sementara di rumah, tempatkan di area yang sejuk, kering, jauh dari bahan mudah terbakar, dan tidak terjangkau anak-anak. Menaruhnya di tempat sampah hanya demi praktis bukan solusi aman, karena satu baterai yang salah buang dapat memicu truk rusak, rute tertunda, dan api yang sulit dikendalikan.

Baca Juga

Back to top button