7 Drama Korea Bernuansa Pesisir Dan Penyembuhan, Dari Jeju Hingga Tongyeong

Daya tarik drama seperti Azure Spring justru bukan hanya datang dari pesisir dan pemandangannya. Yang membuat banyak penonton betah adalah cara kisahnya menautkan luka lama, ruang untuk pulih, dan hubungan antarmanusia yang tumbuh pelan-pelan.

Itulah sebabnya sejumlah drama Korea dengan atmosfer serupa selalu kembali dicari. Dari desa kecil, kehidupan haenyeo, sampai tokoh yang memilih menjauh dari hiruk-pikuk kota, pola ceritanya menawarkan rasa hangat yang dekat dengan Azure Spring.

Kisah yang paling dekat dengan nuansa healing pesisir

When the Weather Is Fine termasuk judul yang paling sering dianggap sejalan dengan Azure Spring. Ceritanya membawa tokoh utama pulang ke pedesaan untuk menyembuhkan diri setelah pengalaman buruk membuatnya sulit percaya pada orang lain.

Mok Hae Won kembali ke Desa Bookhyun dan bertemu lagi dengan Im Eun Seob, teman sekolah yang mengelola Goodnight Bookstore. Kehadiran Hae Won perlahan mengubah hidup Eun Seob yang semula sederhana dan tenang.

Desa kecil, hidup yang melambat

Summer Strike juga bergerak dengan energi serupa, terutama lewat tokoh yang meninggalkan kota untuk mencari ketenangan. Lee Yeo Reum berhenti dari pekerjaannya setelah menghadapi berbagai masalah hidup, lalu pindah ke desa kecil Angok.

Di sana, ia berkenalan dengan An Dae Beom, pustakawan pendiam yang menyimpan kisah hidup menyedihkan. Hubungan keduanya berkembang perlahan dan saling mengisi rasa sepi.

Pesisir, haenyeo, dan relasi yang tumbuh dari keseharian

Hometown Cha Cha Cha menonjol lewat visual pesisir dan suasana desa yang kuat. Drama ini juga menampilkan banyak penduduk Gongjin yang berprofesi sebagai haenyeo.

Yoon Hye Jin, dokter gigi dari Seoul, pindah ke Gongjin dan bertemu Hong Du Sik. Hubungan mereka tumbuh perlahan melalui banyak momen bersama warga setempat, sehingga drama ini kerap dianggap sangat mirip dengan Azure Spring.

Jeju dan lapisan emosi yang lebih dalam

Our Blues membawa pendekatan yang lebih emosional lewat kisah para haenyeo di Pulau Jeju. Ceritanya menyoroti banyak karakter dengan masalah dan luka masing-masing, mulai dari keluarga, persahabatan, cinta, sampai perjuangan hidup.

Warga Pureung digambarkan realistis dan emosional dalam alur yang saling terhubung. Daya tariknya juga diperkuat oleh nama besar seperti Lee Byung Hun, Shin Min Ah, dan Kim Woo Bin.

Luka keluarga dan pemulihan yang pelan

When Life Gives You Tangerines menyoroti kehidupan haenyeo dari sudut keluarga. Ceritanya berpusat pada ibu Ae Sun yang bekerja keras sebagai haenyo setelah suaminya meninggal, lalu wafat akibat kecelakaan tragis saat menyelam.

Setelah itu, Ae Sun dititipkan kepada ayah tirinya dan para haenyeo yang dulu menjadi rekan kerja ibunya. Nuansa pesisir yang hangat membuat drama ini terasa sejalur dengan Azure Spring yang juga berlatar di Tongyeong.

Pulang ke kampung halaman membawa luka lama

Welcome to Samdal-ri menawarkan pola yang dekat lewat kisah pulang kampung dan pekerjaan haenyeo. Jo Sam Dal, fotografer sukses, harus kembali ke Jeju setelah kariernya berantakan akibat rumor bullying.

Di kampung halaman, ia bertemu lagi dengan Jo Yong Pil, sahabat masa kecil sekaligus mantan kekasihnya. Yong Pil bekerja sebagai peramal cuaca di Pulau Jeju dan sangat serius dengan pekerjaannya setelah ibunya yang haenyeo meninggal akibat kesalahan prakiraan cuaca.

Pemulihan yang lahir dari keluarga

Love, Take Two menutup daftar ini dengan cerita pemulihan yang berangkat dari masalah kesehatan. Lee Hyo Ri didiagnosis mengidap penyakit serius saat menempuh pendidikan di sekolah medis, lalu berhenti kuliah dan berusaha mencari pasangan untuk ibunya, Lee Ji An.

Lee Ji An adalah ibu tunggal yang membesarkan Hyo Ri seorang diri sambil bekerja sebagai mandor proyek konstruksi. Hubungan keduanya membaik setelah pindah ke desa Cheonghae, menghadirkan nuansa healing yang kuat dan sejalan dengan Azure Spring.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version