Banyak orang membeli smartphone dengan layar 120Hz karena berharap gerak di layar terasa jauh lebih mulus. Namun, pengalaman itu tidak selalu muncul hanya karena angka refresh rate-nya tinggi.
Yang sering luput diperhatikan adalah bahwa layar cepat tetap bergantung pada kekuatan chipset, suhu perangkat, dan optimasi sistem. Jika salah satu bagian ini tidak mendukung, tampilan yang semestinya halus bisa tetap terasa tersendat saat dipakai sehari-hari.
Refresh rate 120Hz sendiri berarti layar memperbarui gambar 120 kali dalam satu detik. Dibandingkan 60Hz, perbedaannya biasanya terasa saat scrolling media sosial, berpindah menu, membuka halaman web panjang, navigasi antaraplikasi, sampai bermain game kompetitif.
Masalahnya, 120Hz tidak selalu aktif penuh sepanjang waktu. Pada sejumlah perangkat, sistem dapat menurunkannya ke 90Hz, 60Hz, atau bahkan lebih rendah ketika kondisi tertentu muncul.
Penurunan itu bisa terjadi saat perangkat terlalu panas, saat baterai dihemat, ketika chipset bekerja terlalu berat, atau ketika game yang dimainkan memang tidak mendukung refresh rate tinggi. Sistem juga bisa menyesuaikan performa demi efisiensi daya.
Akibatnya, layar yang diharapkan terasa premium justru dapat kehilangan kelancaran. Scrolling bisa tampak patah-patah, respons layar terasa kurang enak, dan pengalaman bermain game ikut menurun.
Chipset ikut menentukan rasa mulus
Banyak pembeli terlalu fokus pada layar dan melupakan peran chipset. Padahal, komponen ini ikut memengaruhi performa grafis, kestabilan frame rate, dan pengendalian suhu perangkat.
Chipset yang kuat dan efisien membuat layar 120Hz lebih mungkin berjalan stabil. Sebaliknya, chipset yang pas-pasan dapat membuat ponsel tetap lag atau mengalami drop meski panel layarnya sudah mendukung refresh rate tinggi.
Itu sebabnya dua smartphone dengan spesifikasi layar yang mirip belum tentu terasa sama saat digunakan. Angka 120Hz hanya menunjukkan kemampuan panel, bukan keseluruhan pengalaman memakai ponsel.
Kenapa angka di spesifikasi tidak selalu terasa di tangan
Refresh rate tinggi kini muncul di banyak kelas smartphone, dari model murah sampai flagship premium. Tetapi, label 120Hz tidak otomatis berarti angka itu aktif terus-menerus dalam semua kondisi pemakaian.
Suhu perangkat punya pengaruh besar terhadap kestabilan layar. Saat smartphone cepat panas, sistem biasanya menahan performa agar perangkat tetap aman dan lebih hemat daya.
Dukungan game juga ikut menentukan. Jika sebuah judul tidak dirancang untuk refresh rate tinggi, layar tidak bisa memaksimalkan angka 120Hz yang tertulis di spesifikasi.
Tiga hal yang sebaiknya diperiksa
Ada tiga faktor utama yang layak dicek sebelum membeli smartphone dengan layar 120Hz. Pertama, chipset harus kencang dan stabil agar refresh rate tinggi lebih mudah bertahan.
Kedua, sistem pendingin perlu diperhatikan karena perangkat yang cepat panas cenderung lebih cepat menurunkan performa layar. Ketiga, optimasi software harus matang supaya antarmuka terasa ringan dan animasi tetap halus.
Jika ketiganya selaras, pengalaman 120Hz biasanya terasa lebih premium. Jika tidak, angka tinggi di brosur hanya tampak menarik tanpa selalu memberi rasa mulus dalam pemakaian nyata.
Pada akhirnya, konsumen sebaiknya menilai smartphone dari keseimbangan antara layar, chipset, dan sistem. Panel 120Hz memang menjanjikan tampilan yang lebih nyaman, tetapi tanpa mesin yang memadai di dalamnya, keunggulan itu bisa sulit terasa setiap hari.
Source: id.mashable.com